Tampilkan postingan dengan label Rumah Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Adat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2008

Rumah Joglo Tahan Gempa

Rumah Joglo Tahan Gempa


Bangunan Joglo menimbulkan interpretasi arsitektur Jawa yang mencerminkan ketenangan.

TAK hanya megah, indah, sarat makna dan nilai-nilai sosiokultural, arsitektur bangunan joglo juga dapat meredam gempa. Bagaimana desainnya?

Sebuah bangunan joglo yang menimbulkan interpretasi arsitektur Jawa mencerminkan ketenangan, hadir di antara bangunan- bangunan yang beraneka ragam. Interpretasi ini memiliki ciri pemakaian konstruksi atap yang kokoh dan bentuk lengkung-lengkungan di ruang per ruang.

Rumah adat joglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional.

Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah adat Kudus terdiri atas soko guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau tumpang telu (tumpang tiga) di atasnya. Struktur joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur utama rumah,juga sebagai tumpuan atap rumah agar atap rumah bisa berbentuk pencu.

Pada arsitektur bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan sekadar pemahaman seni konstruksi rumah, juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusitasnya terefleksikan dalam arsitektur rumah dengan gaya ini.

Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu,yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan.

Pada ruang bagian dalam yang disebut gedongan dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam memimpin salat yang dikaitkan dengan makna simbolis sebagai tempat yang disucikan, sakral, dan dikeramatkan. Gedongan juga merangkap sebagai tempat tidur utama yang dihormati dan pada waktuwaktu tertentu dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anak-anaknya.

Ruang depan yang disebut jaga satru disediakan untuk umat dan terbagi menjadi dua bagian, sebelah kiri untuk jamaah wanita dan sebelah kanan untuk jamaah pria. Masih pada ruang jaga satru di depan pintu masuk terdapat satu tiang di tengah ruang yang disebut tiang keseimbangan atau soko geder, selain sebagai simbol kepemilikan rumah, tiang tersebut juga berfungsi sebagai pertanda atau tonggak untuk mengingatkan pada penghuni tentang keesaan Tuhan.

Begitu juga di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut soko guru melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan sebagi hakikat dari sifat manusia.

”Untuk membedakan status sosial pemilik rumah, kehadiran bentangan dan tiang penyangga dengan atap bersusun yang biasanya dibiarkan menyerupai warna aslinya menjadi ciri khas dari kehadiran sebuah pendopo dalam rumah dengan gaya ini,” tutur Zulfikar Latief, pemilik galeri Rumah Jawa, yang menyediakan rumah adat joglo dan furnitur etniknya.

Kesan yang akan timbul dari arsitektur bangunan tradisional joglo sering kali terasa antik dan kuno, hal ini timbul melalui kehadiran perabot hingga pernak-pernik pendukung bernuansa lawas yang dibiarkan apa adanya. Namun, dalam penataan hunian bergaya ini tidak ada salahnya bila dikombinasikan dengan gaya modern maupun minimalis.

“Dalam menata rumah joglo, sah-sah saja bila dikombinasikan antara rumah minimalis dengan rumah etnik. Salah satu hal yang lazim dilakukan banyak orang ialah pemakaian pintu gebyok sebagai pintu utama, sementara furnitur yang digunakan berlanggam modern. Ini dilakukan untuk memberi kesan tidak terlalu berat,” ungkap pria yang akrab disapa Itang.

Nuansa asli sering terasa melalui kehadiran hunian berarsitektur tradisional joglo.Kesan inilah yang sengaja dihadirkan oleh bangunan-bangunan modern bergaya etnik yang banyak diaplikasikan pada hunian maupun bangunan umum seperti restoran.

Eksotika Joglo Pencu
Tiga pintu yaitu depan, samping kiri dan kanan hadir dengan makna simbolisnya.

JOGLO Pencu. Ketika seseorang mengatakan kata tersebut, ingatan kita akan segera tertuju pada sebuah rumah tradisional yang berasal dari daerah Kudus (salah satu bagian dari kebudayaan Jawa).

Rumah dengan berbagai keindahan dengan karakter khusus ini tampil memikat melalui kerumitan yang cukup tinggi pada ornamen hias yang ada pada hampir setiap ruang yang ada pada rumah joglo pencu. Karakter spesifik yang ada tersebut sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam bangunan tradisional yang ada di Jawa pada umumnya.

Perbedaan lain dapat dijumpai pada bentuk ornamen ukir yang diterapkan, pola susunan ruang dan dimensi yang kemudian berdampak pada proporsi ukuran dari masing-masing ruangnya. Meskipun ruang yang digunakan sama, tetapi terjadi perbedaan yang cukup besar pada dimensidimensi ruangan yang terjadi jika dibandingkan dengan rumah tradisional Jawa pada umumnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena kebudayaan yang berpengaruh besar di dalam masyarakat Kudus bukan hanya kebudayaan Jawa saja. Letaknya di jalur perdagangan dan mata pencaharian sebagian besar penduduknya sebagai pedagang memunculkan bentuk yang sekarang dapat dijumpai pada rumah joglo pencu.

Bangunan tradisional seperti rumah joglo yang banyak memakai elemen natural di dalamnya, terbukti tahan terhadap bencana alam seperti gempa. Banyak faktor yang menyebabkan joglo tanggap gempa. Sengaja digunakan kata tanggap gempa bukan tahan gempa karena bangunan ini sepertinya dapat merespons dan berdialog dengan gaya gempa.

Pertama, sistem struktur yang digunakan. Orang menganggap joglo berstruktur rangka karena memang terlihat batang-batang kayu yang disusun membentuk rangka. Struktur joglo menerapkan sistem tenda atau tarik. Hal ini didasarkan pada sistem dan sifat sambungan kayu yang digunakan (cathokan dan ekor burung), semuanya bersifat mengantisipasi gaya tarik. Sistem struktur tarik inilah yang membuat joglo bersifat fleksibel sehingga dapat tanggap terhadap gaya-gaya gempa.

“Bangunan joglo dapat meredam gempa karena memiliki keterkaitan antarstruktur dan materialnya, sambungan antarkayu yang tidak kaku sehingga fleksibel dan memiliki toleransi tinggi terhadap gempa,” ungkap arsitek dan kontraktor dari Mitra Graha Asri Mandiri Ir Wisnu Brata. Kedua, sistem distribusi beban.

Bangunan joglo memiliki soko guru (tiang utama) 4 buah dan 12 buah soko pengarak. Ruang yang tercipta dari keempat soko guru disebut rong-rongan, yang merupakan struktur inti joglo. Soko-soko guru disatukan oleh balok-balok (blandar-pengeret dan sunduk-kili) dan dihimpun-kakukan oleh susunan kayu yang berbentuk punden berundak terbalik di tepi (tumpangsari) dan berbentuk piramida di tengah (brunjung).

Susunan kayu ini bersifat jepit dan menciptakan kekakuan sangat rigid. Soko-soko pengarak di peri-peri dipandang sebagai pendukung struktur inti. Faktor ketiga adalah sistem tumpuan dan sistem sambungan. Sistem tumpuan bangunan joglo menggunakan umpak yang bersifat sendi. Hal ini untuk mengimbangi perilaku struktur atas yang bersifat jepit.

Sistem sambungannya yang tidak memakai paku, tetapi menggunakan sistem lidah alur, memungkinkan toleransi terhadap gaya-gaya yang bekerja pada batang-batang kayu. “Toleransi ini menimbulkan friksi sehingga bangunan dapat akomodatif menerima gaya-gaya gempa,” tutur Wisnu.

Pemilihan dan penggunaan bahan bangunan adalah faktor keempat. Penggunaan kayu untuk dinding (gebyok) dan genteng tanah liat untuk atap disebabkan material ini bersifat ringan sehingga relatif tidak terlalu membebani bangunan.

Pada awalnya penutup atap yang dipakai adalah jerami, daun kelapa, daun tebu, sirap, dan ilalang. Oleh karena merebak penyakit pes, pemerintah kolonial Belanda mengganti penutup atap dengan genteng supaya lebih sehat. (chaerunnisa) okezone
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Sabtu, 05 Januari 2008

Arsitektur Indonesia

Arsitektur Indonesia


Oleh
Yustinus Ade Stirman

Setiap tanggal 5 Juni, kita memperingatinya sebagai Hari Lingkungan Dunia. Menyambut hari lingkungan ini, ada baiknya kita melihat kembali perjalanan arsitektur dan kota Indonesia yang saat ini kondisinya lagi linglung, tidak lagi mencerminkan kepribadian bangsa.
Arsitektur dan kota, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan yang melambangkan atau mencerminkan masyarakat penghuninya. Bahkan arsitektur dan kota menggambarkan citra suatu kota atau bangsa. Kota Roma, misalnya, sangat terkenal dengan arsitek bangunannya yang kokoh, megah yang umurnya sudah berabad-abad, merupakan warisan sejarah kejayaan bangsa Romawi. Bangunan yang kokoh dan megah itu, melambangkan citra orang Italia yang pada masa jayanya terkenal sebagai bangsa yang memiliki prajurit atau bala tentara yang tangguh tak terkalahkan di medan perang, yang
berhasil menaklukkan dunia pada saat itu. Kepribadiannya sebagai bangsa yang kokoh dan tangguh itu, tercermin dalam arsitektur yang kokoh dan tangguh sebagai bangsa yang besar.
Hal yang sama juga terlihat pada arsitektur dan kota di Indonesia khususnya di Pulau Bali. Hanya bedanya, arsitektur kota Bali yang penuh dengan lukisan, ukiran, patung-patung yang bernilai seni tinggi mencerminkan penduduknya yang mencintai dan menjunjung tinggi nilai seni dan keindahan yang diwariskan nenek moyangnya secara turun-temurun. Citra penduduk Bali yang menyukai dan menghayati nilai-nilai seni itu terwujud dalam arsitektur bangunannya yang sarat dengan seni.
Romo Y.B. Mangunwidjaya (almarhum) salah seorang pakar arsitek nasional, mengemukakan dua hal pokok yang perlu diperhatikan dalam merencanakan dan merancang karya yang bernilai arsitektur; yaitu guna dan citra. Guna menunjukkan pada keuntungan, pemanfaan dan pelayanan yang dapat kita peroleh dari bangunan. Guna dalam arti aslinya, tidak hanya
bermanfaat tetapi juga punya daya yang menyebabkan kita bisa hidup lebih nyaman.
Sedangkan citra menunjukkan suatu gambaran (image), suatu kesan penghayatan yang mempunyai arti bagi seseorang. Misalnya, citra gedung istana yang megah melambangkan kemegahan, kewibawaan seorang kepala negara. Sedangkan gubuk yang reyot adalah citra yang menggambarkan penghuninya yang miskin serta reyot juga keadaannya. Singkatnya, kalau arsitektur dan kota kita kacau-balau, hal ini kemungkinan besar merupakan pencerminan yang wajar dan jujur dari keadaan masyarakat yang sedang linglung. Dan inilah gambaran arsitektur dan kota Indonesia saat ini sebagai bangsa yang linglung yang kehilangan jati dirinya.
Pada masyarakat tradisional, kegiatan merencana, merancang, melakukan dan mengelola lingkungan buatan merupakan kegiatan swadaya dan swakarsa lokal dari penduduknya. Dengan demikian, lingkungan fisik yang terbentuk betul-betul secara wajar dan pas mewadahi aktivitas manusia yang menghuninya dengan segenap tata cara dan adat istiadatnya.
Keselarasan, keserasian dan keseimbangan ekologis pun lantas muncul dengan sendirinya secara spontan tanpa kehadiran perencana formal. Karya arsitektur dan kota lebih merupakan karya komunal dari penduduknya yang saling kenal dan memiliki warisan norma, tata nilai, dan tradisi yang disepakati bersama.
Pada masyarakat kontemporer, keadaan tersebut telah mulai masuk menjadi bagian dari sejarah masa lampau pengelolaan pembangunan dalam arti luas, yang cenderung kesan canggih yang didominasi para pakar dan pimpinan daerah selaku pembuat kebijakan yang begitu terobsesi untuk membangun tanpa memperhatikan kaidah, budaya atau lingkungan sekitarnya.
Arsitektur dan kota yang carut-marut itu terjadi karena adanya kesenjangan antara pihak yang memikirkan dan menyediakan fasilitas dengan pihak yang menggunakan fasilitas. Kesenjangan tersebut menyebabkan pembangunan yang telah dilaksanakan kadang-kadang bahkan sama sekali tidak menyentuh atau memenuhi harapan dari masyarakat yang memanfaatkannya.
Sebagai contoh di DKI Jakarta, misalnya, boleh dibilang arsitektur bangunan yang ada tidak lagi mencerminkan kepribadian penduduk Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta. Kalau kita lihat gedung-gedung bertingkat di bilangan Sudirman, Kuningan, Bundaran Hotel Indonesia, tidak lagi mencerminkan citra penduduk Betawi atau bangsa Indonesia. Hampir tidak ada satu pun gedung yang arsitekturnya khas Betawi. Yang ada hanya gedung pencakar langit yang arsitekturnya lebih mencerminkan citra bangsa Barat.
Sampai-sampai Friedrich Silahan, salah seorang pakar tata kota Indonesia, menuding semua bangunan bertingkat di sepanjang Jalan Thamrin Jakarta sebagai bangunan yang tidak berkepribadian Indonesia. Semua bangunan pencakar awan itu, tidak akan terasa aneh bila ada di Singapura, Hong Kong, AS atau Eropa.
Tidak hanya itu, demam arsitektur ala Barat juga merambah bangunan perumahan elite di DKI Jakarta dan sekitarnya. Rumah tipe Spanyol dan Italia menjadi primadona yang selalu menjadi incaran mereka yang berkantong tebal.
Orang merasa bangga tinggal di perumahan elite gaya Spanyol, ketimbang di perumahan khas Indonesia yang arsitekturnya dinilai kuno dan kolot. Di sini kita tidak lagi menghargai arsitektur sebagai warisan nenek moyang kita malah bangga dengan arsitektur barat. Padahal arsitektur itu belum tentu cocok dengan budaya dan iklim Indonesia.
Banyak perencanaan arsitektur dan kota yang dikerjakan tidak atas dasar cinta dan pengertian sesuai etik profesional, melainkan berdasarkan eksploitasi dan prostitusi yang bermotif komersial. Contohnya, penunjukan konsultan sering tidak didasarkan atas pertimbangan prestasi dan referensi pekerjaan yang telah dilakukan, tetapi kebanyakan karena kondisi dan komisi hasilya, sebuah karya berkualitas rendah.
Fragmentalisme dalam karya arsitek mengakibatkan bahwa arsitek berlomba-lomba untuk menciptakan monumen untuk dirinya sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya di sepanjang Jl. MH Thamrin Jakarta, setiap bangunan seolah ingin bicara dengan nada dan warna sendiri, kesan kesatuan tidak ada. Yang ada hanyalah suasana semrawut.
Parahnya lagi, para penentu kebijakan yang berada di pemerintahan kurang peka lingkungan, dan menderita obsesi membangun yang kelewatan. Contohnya, taman sebagai paru-paru kota berubah fungsi menjadi kawasan pertokoan atau perumahan.
Carut-marutnya arsitektur Indonesia saat ini memang tidak sepenuhnya merupakan kesalahan para arsitek. Artinya kesemrawutan lingkungan buatan itu karena kesalahan para arsitek. Seolah-olah kelompok arsiteklah yang paling pantas untuk dituding dengan menjamurnya bangunan bergaya Moorish, dengan kolom dorik/lonik/korintian atau bangunan semacam kapsul ruang angkasa, dan lain-lain yang tidak ada silsilahnya di bumi Indonesia.
Meskipun demikian, bukan berarti para arsitek cuci tangan atas semuanya itu. Kalau mau jujur, sebenarnya para arsitek selama ini terbukti cukup banyak melakukan kesalahan. Tidak sedikit di antaranya yang terpaku dengan inovasi dan teknologi maju yang diagungkan sebagai cerminan modernitas. Estetika dilihat hanya sekadar sebagai falsafah, bukan sebagai suatu yang bermakna bagi masyarakat sendiri. Penekanan lebih condong pada struktur dan fungsi, sementara fiksi arsitektur dan intrikasi visual, seperti yang selalu ditemui pada bangunan tradisional hanya dipandang dengan sebelah mata.
Selain itu, kesalahan para arsitek yang lain adalah bahwa faktor manusia dalam perencanaan sering diabaikan. Keberhasilan dan kegagalan dari suatu karya arsitektur lebih banyak dinilai dari segi fisik dan visual saja daripada kaitannya dengan kekhasan dan perilaku manusia yang menggunakannya.
Untuk mengatasi kesemrawutan arsitektur kota Indonesia, menuju arsitektur yang serasi, selaras dan seimbang dengan iklim dan budaya bangsa Indonesia, maka yang perlu dilakukan adalah menggali arsitektur tradisional yang masih kita miliki. Napas dan jiwa arsitektur tradisional perlu ditangkap dan diejawantahkan kembali ke dalam wadah yang benar.
Arsitektur tradisional sebagai salah satu bentuk warisan budaya yang tak ternilai adalah merupakan pengendapan fenomena dari waktu ke waktu yang berlangsung secara runtut dan revolusioner. Hanya saja masalahnya sekarang penelitian tentang arsitektur tradisional masih seperti embrio sementara perkembangan dan perubahan dan berlansung sangat cepat.
Selain itu, perlunya peran aktif segenap pihak. Dari pemerintah diharapkan adanya usaha penyempurnaan monumenten ordonantie 1931 disertai dengan development control yang terarah. Pemerintah perlu diimbau agar lebih peka terhadap lingkungan, tidak main bongkar saja, dengan dalih modernisasi.
Sementara dari pihak masyarakat sediri perlu dipupuk rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap tradisi tata cara hidup dan budaya mereka masing-masing yang antara lain tercermin dalam khazanah warisan arsitektur daerahnya.
Tidak hanya itu, di perguruan tinggi perlu dikembangkan studi tentang arsitektur khas Indonesia, khususnya untuk bidang studi planologi.
Dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Dunia kali ini, sudah saatnya para arsitek membumikan diri sehingga bisa mengungkapkan budaya bangsa secara baik dan benar lewat karya arsitekturnya yang mencerminkan citra bangsa Indonesia. Semoga!

*Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana ilmu lingkungan Universitas Indonesia.


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Minggu, 30 September 2007

Rumah Betang Suku Dayak

Rumah Betang Suku Dayak
di Ambang Kepunahan





SH/Aju

TERAWAT DAN PUNAH – Rumah adat Suku Dayak Tamambaloh di Desa Bali Gundi, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, adalah salah satu dari rumah adat Suku Dayak yang masih terawat baik. Namun, ada pula rumah adat Suku Dayak yang terancam punah karena termakan usia serta minimnya dana pemeliharaan seperti yang terdapat di Sungai Uluk Apalin, Kecamatan Embaloh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.


PUTUSSIBAU – Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) yang terletak di pehuluan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Di samping dikenal sebagai kabupaten konservasi dengan kehadiran Taman Nasional Danau Sentarum sebagai sumber utama resapan air Sungai Kapuas seluas 130.000 hektare dan Taman Nasional Betung Kerihun seluas 800.000 hektare, juga memiliki banyak rumah betang (panjang) Suku Dayak.
Rumah betang Suku Dayak memiliki keunikan tersendiri. Bentuknya memanjang lurus di atas seratus meter, bertiang panggung berketinggian di atas satu meter dan beratap sirap dari kayu ulin. Di dalam rumah betang terdapat puluhan bilik dan satu bilik dihuni satu keluarga. Pintu akses ke dalam mesti melewati tangga dari bawah kolong yang terbuat dari kayu bulat dilengkapi anakan tangga demi mempermudah pijakan.
Karena keunikannya itu, Kantor Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan setempat menetapkan lima unit rumah betang di Kabupaten Kapuas Hulu sebagai cagar budaya. Rumah betang cagar budaya itu berada di Dusun Sunge Uluk Apalin, Desa Nyagau, Kecamatan Embaloh Hilir, di Melapi, Kecamatan Putussibau, di Semangkok, Kecamatan Kedamin, serta di Sungai Utik dan Bukung, Kecamatan Embaloh Hulu.
Rumah betang di Dusun Sunge Uluk Apalin merupakan salah satu rumah adat Suku Dayak tertua di Kalimantan Barat. Interiornya relatif asli, baik bentuk maupun bahan bangunannya. Rumah betang yang didirikan 65 tahun silam mencakup 54 bilik (ruang kamar) dengan panjang 286 meter, tiang panggung dari kayu ulin berdiameter di atas 50 sentimeter dan berketinggian rata-rata delapan meter.
Letaknya yang relatif dekat dari Kota Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, sekitar satu jam perjalanan darat, membuat rumah betang di Uluk Apalin cukup ramai dikunjungi wisatawan. Setiap pengunjung akan disambut ramah, tidak dipungut bayaran dan cukup mengisi buku tamu.
Selama berkunjung, setiap tamu akan disapa penghuni yang kebanyakan orangtua dengan sikap sopan dan bersahabat. Bila berkenan, pengunjung akan disuguhi minum tuak (minuman tradisional dari beras ketan) dan makan sirih karena dianggap menghargai budaya masyarakat lokal.
Rasa kebersamaan dan persaudaraan tampak setiap ada permasalahan yang menimpa salah satu penghuni. Jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan elektronik.
Sayangnya, karena termakan usia, rumah betang di Uluk Apalin terancam kepunahan, karena kondisi fisik bangunannya yang sudah sangat memprihatinkan. Selain mengalami kerusakan pada fisik bangunannya, keberadaan rumah betang ini pun mengalami ancaman eksternal, akibat pengikisan air sungai di depannya yang semakin hari semakin bertambah. Demikian pula tumbuhan liar yang cukup padat di sekitar rumah betang yang sangat dekat dengan bangunan, menyebabkan kelembaban tinggi di sekitarnya, sehingga turut andil dalam mempercepat proses pelapukan bangunan.
Wartawan SH yang berkunjung ke Dusun Sunge Uluk Apalin belum lama ini menyaksikan sebagian besar atap sirap di beranda depan sudah dalam keadaan bolong. Bagian ruang tamu dan dapur yang dimiliki masing-masing satu kepala keluarga, direhap seadanya, sehingga mengurangi makna artistiknya. Demikian pula fasilitas sanitasi, seperti kamar mandi, kamar kecil, dan pipa air bersih rata-rata mengalami kerusakan, sehingga sebagian besar warga memilih mandi dan buang hajat langsung ke sungai.
Menariknya, setiap penghuni bilik selalu memiliki koleksi barang antik berupa piring keramik, gong, meriam kuno, talam tembaga, dan berbagai bentuk perhiasan Cina dan Belanda yang sudah sangat jarang dijumpai. Para penghuni rumah betang Uluk Apalin dikenal pula memiliki seni budaya cukup tinggi, bisa dilihat dari berbagai bentuk ukiran palung, mandau (parang hiasan untuk berperang Suku Dayak), tombak dan berbagai bentuk anyaman dari rotan.

Terbentur Biaya
Kanisius (59) salah satu penghuni rumah betang di Uluk Apalin kepada SH mengatakan, setiap kali warga yang berusaha berinisiatif melakukan rehab swadaya, selalu terbentur biaya, karena masing-masing kepala keluarga mesti merogoh kantong minimal Rp 15 juta. Nilai nominal yang tidak mungkin dipenuhi para penghuni yang sebagian besar bermatapencaharian berladang berpindah dan penebang kayu di hutan.
”Rahab yang dilakukan kalangan swadaya masyarakat dan pemerintah, kesannya masih bersifat tambal sulam, karena keterbatasan anggaran. Tapi fondasi rumah betang ini sangat kuat, masih mampu bertahan hingga seratus tahun mendatang, sehingga yang paling mendesak direhab adalah bagian atap, teras dan fasilitas sanitasi,” ujar Kanisius.
Rumah betang Uluk Apalin sudah berkali-kali berpindah tempat, karena terdesak ancaman abrasi. Bangunan terakhir ini sudah berusia 65 tahun. Sebagian besar bahan bangunannya berasal dari bangunan rumah betang lama. Ratusan unit tiang panggung yang masih berdiri kokoh sekarang dengan diamater di atas 50 sentimeter, diyakini telah berusia lebih dari 200 tahun!
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Lintungan Pandji menjelaskan, rehabilitasi rumah panjang di Dusun Sunge Uluk Apalin mesti melewati proses panjang, karena membutuhkan dana di atas Rp 5 miliar. Sejauh ini, memang sudah ada informasi rencana bantuan rehabilitasi bertahap dari UNESCO, kalangan swadaya masyarakat luar negeri dan pemerintah pusat, tapi perlu konfirmasi lebih lanjut.
”Pemerintah sudah bertekad keberadaan rumah betang di Dusun Sunge Uluk Apalin mesti diselamatkan dari kepunahan, karena sudah termasuk dalam cagar budaya yang mesti dilindungi. Tapi prosesnya panjang, sehingga dibutuhkan kesabaran,” kata Lintungan.
Menurut Lintungan, dalam jangka panjang program rehabilitasi rumah betang Uluk Apalin akan lebih ditekankan kepada aspek pengembangan program pariwisata. Implikasinya para penghuni secara bertahap dipindahkan ke pemukiman lain, sehingga rumah betang Uluk Apalin pengelolanya diambil alih pemerintah. Masyarakat penghuni akan diberi kompensasi yang aplikasinya dijamin tetap berpihak kepada rasa keadilan masyarakat.(SH/aju)


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Keywords Rumah Adat

tentang rumah
rumah adat jakarta
rumah adat bali
rumah adat kalimantan timur
fungsi rumah adat
arsitektur rumah adat
rumah tropis
rumah adat nias
artikel rumah adat
ornamen rumah adat
rumah adat karo
rumah adat sumatera
rumah adat sulawesi selatan
ragam hias rumah adat betawi
rumah adat batak toba
rumah bali
rumah adat jawa
rumah minang
rumah disain
rumah adat sumatera selatan
rumah adat riau
tentang adat
rumah adat minang kabau
arsitektur rumah
rumah adat lombok
gambar rumah adat batak
minimalis rumah
budaya adat
rumah adat papua
rumah adat palembang
asal usul rumah adat
rumah adat tradisional
rumah aceh
rumah tinggal
rumah adat padang
rumah kalimantan
rumah tanah
rumah adat jawa barat
bentuk rumah adat
perkawinan adat
rumah adat gorontalo
rumah adat melayu
rumah adat suku batak
rumah adat kudus
rumah adat nusa tenggara
rumah adat sumba
rumah adat sumatera utara
rumah sunda
contoh rumah
sketsa rumah
rumah adat minahasa
rumah modern
tradisi adat
rumah dan pakaian adat
rumah adat di indonesia
rumah adat joglo
artikel rumah
taman rumah
rumah adat betawi
rumah adat bugis
rumah papua
ruang rumah
rumah adat sumatra
tradisional rumah
denah rumah adat
rumah minangkabau
gambar rumah adat indonesia
rumah indonesia
masyarakat adat
foto rumah adat
warna adat
rumah adat honai
rumah adat ntb
adat indonesia
rumah idaman
rumah adat irian jaya
warna rumah
rumah bugis
adat bali
rumah adat
jenis rumah adat
rumah adat sumatra utara
rumah adat sumatera barat
rumah kayu
rumah melayu
rumah budaya
struktur rumah adat
rumah adat maluku
rumah palembang
rumah rumah adat
sejarah adat
gambar rumah adat nias
tanah adat
sejarah rumah
rumah adat irian
rumah adat dayak
rumah adat suku sunda
rumah adat nusa tenggara timur
rumah adat manggarai
gambar rumah adat jawa
macam rumah adat
rumah bangunan
rumah seni
bangunan rumah adat
rumah adat suku dani
rumah fengshui
rumah batu
pagar rumah
rumah adat banjar
rumah dapur
rumah adat indonesia
rumah adat kalimantan selatan
rumah adat toraja
rumah adat nusantara
rumah adat banten
rumah dayak
tipe rumah
rumah adat sulawesi utara
rumah adat yogyakarta
rumah adat suku minahasa
kesenian adat
rumah adat suku baduy
rumah adat bengkulu
rumah adat sunda
denah rumah
macam macam rumah adat
upacara adat
rumah adat suku irian
rumah adat daerah
arsitek rumah
rumah adat jambi
rumah adat batak
nama rumah adat
bentuk rumah
rumah adat kalimantan barat
rumah mungil
rumah nias
rumah madura
rumah adat jepang
rumah adat medan
gambar rumah
rumah adat sumatra barat
rumah adat minang
rumah adat madura
nama nama rumah adat
rumah adat sulawesi tenggara
rumah adat makassar
adat dayak
rumah adat lampung
rumah adat dki
adat batak
seni adat
rumah adat batak karo
sejarah rumah adat
perbedaan rumah adat dengan rumah modern
rumah adat suku tengger
feng shui rumah
rumah adat sulawesi
rumah adat suku dayak
gambar rumah adat
interior rumah
tarian adat
rumah adat kalimantan
suku adat
rumah adat flores
rumah jawa
hukum adat
rumah adat buton
pernikahan adat
rumah adat jawa timur
rumah adat minangkabau
ruangan rumah
rumah toraja
rumah adat aceh
adat kebudayaan
perbedaan rumah adat
design rumah
rumah betawi
rumah daerah
rumah sehat
rumah batak
rumah adat di jawa
desain rumah
rumah adat suku sasak
rumah adat manado
jawa adat
rumah sasak
photo rumah adat
gaya rumah
rumah adat dki jakarta
rumah adat jawa tengah
konstruksi rumah adat
pakaian adat
adat sunda
nama rumah adat di indonesia
rumah adat suku karo


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Kamis, 20 September 2007

Teknologi Rumah Sederhana Tahan Gempa

Teknologi Rumah Sederhana Tahan Gempa

GEMPA dan tsunami yang melanda sebagian belahan Afrika dan Asia pada 26 Desember 2004 disusul gempa yang merusak Pulau Nias dan Simeulue awal pekan ini, menggelitik sejumlah ahli teknik konstruksi untuk mengembangkan desain rumah tahan gempa.

SALAH satu lembaga pendidikan yang memiliki sejumlah tenaga ahli teknik, Akademi Teknik Mesin Indonesia Solo, merancang rumah sederhana tahan gempa yang tergolong murah, dengan teknologi yang cukup mudah diaplikasi oleh penduduk di daerah rawan gempa.

Rumah tahan gempa yang diberi nama Smart Modula ini tergolong konsep revolusioner untuk konstruksi bangunan serba guna. Desain rumah ini memiliki fleksibilitas tinggi, mudah dalam membangunnya, dan cukup kokoh. Konsep knock down atau bongkar pasang yang cukup sederhana ini juga praktis.

"Ide pembuatan rumah sederhana ini sebenarnya bukan sebagai rumah tahan gempa, tetapi awalnya pesanan untuk mengganti tenda-tenda darurat saat terjadi bencana. Konsep awal yang lebih mirip kontainer tergolong gagal karena hasilnya terlalu berat. Rintisan rumah ini sudah berlangsung sejak lima tahun lalu," tutur Direktur Akademi Teknik Mesin Indonesia Solo (ATMI) BB Triatmoko SJ.

Konsep ini mengalami stagnasi proses kreatif karena masih saja terpaku pada konsep pengembangan bentuk kontainer yang baku seperti kubus. Padahal, kebutuhan saat itu lebih pada bentuk-bentuk yang lebih fleksibel dan tidak kaku, selain adanya persoalan bobot yang terlalu berat tadi.

Lebih kurang tiga bulan sebelum terjadi gempa, ide mengembangkan rumah sederhana tersebut kembali tebersit. Saat itu Triatmoko melihat deretan permukiman kumuh di Jakarta, dari atas pesawat yang ditumpanginya. Pemikirannya tertumpu pada keinginan untuk menata permukiman kumuh tersebut tampak lebih rapi, namun tetap murah.

"Rumah tidak hanya sekadar tempat berlindung, tetapi juga cerminan self identity dari pemiliknya. Rumah juga bisa menumbuhkan self confidence dan mengangkat harga diri penghuninya. Meski rumah sederhana dikembangkan untuk segmen rakyat kecil secara massal, tetap saja harus ada standar kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak dibuat secara asal- asalan," kata Triatmoko.

Persoalan rapi dalam koridor ukuran ini identik dengan presisi dan siku-siku yang bisa juga memunculkan keindahan estetis, yang memang sudah menjadi tradisi ATMI. Konsep rumah pengganti tenda itu pun mulai beralih ke rumah murah dan mulai meninggalkan konsep bentuk kontainer. Saat tragedi tsunami terjadi, Triatmoko memikirkan inovasi rumah murah yang sederhana ini beralih ke konsep rumah tahan gempa.

Struktur metal

Struktur kerangka utama rumah tahan gempa ini menggunakan bahan metal utuh, tepatnya besi kanal C yang relatif ringan. Menurut Triatmoko, awalnya memang menggunakan besi pipa yang dinilai kuat dan kokoh. Pertimbangan beralih ke besi kanal C lebih karena besi pipa terlampau berat.

Saat menggunakan besi pipa, proses pembangunan rumah memerlukan orang yang cukup banyak. Bahkan, untuk mengangkat struktur yang membentang di bagian atas, harus terpaksa menggunakan derek. Setelah melalui uji coba pembuatan prototipe sebanyak 4-5 kali, dipilih besi kanal C. Dengan struktur dari besi kanal C ini, untuk merakit struktur kerangka rumah hanya membutuhkan tiga orang.

Alternatif bahan metal dari besi kanal C yang digunakan ada dua jenis, yakni hot deep galvanis dan zing alumunium (54 persen seng, 46 persen aluminium). Untuk hot deep galvanis, jika dibiarkan tanpa dilapisi pelindung atau cat, mampu bertahan sekitar 10-15 tahun. Sementara pada kondisi yang sama, bahan zing alumunium mampu bertahan hingga 20 tahun.

Daya tahan terhadap korosi akan bertambah lama jika kedua bahan tersebut dilapisi pelindung. Struktur utama rumah ini mampu menahan gempa karena dihubungkan dengan baut. Lubang baut sengaja dibuat oval sehingga meski baut dikencangkan, saat ada goncangan yang hebat, masih memungkinkan struktur ini bergerak fleksibel. Ada semacam ruang yang memungkinkan adanya pergerakan ke kiri-kanan maupun pergerakan ke atas-bawah.

Struktur utama rumah tahan gempa ini tidak ditanam atau ditopang dengan fondasi yang memanjang di bawah dinding rumah, tetapi hanya menggunakan umpak di setiap sudut rumah. Konsepnya mengadopsi model rumah tradisional adat Jawa yang dibuat dari kayu. Dengan penopang semacam ini, saat terjadi gempa, relatif bisa fleksibel. Jika menggunakan model fondasi seperti rumah-rumah konvensional, hampir dipastikan akan mengalami keretakan atau patah saat dilanda gempa hebat.

Struktur ini jauh lebih ringan jika bahan besi kanal C diganti dengan bahan composite fiber. Untuk mengangkat besi kanal C sepanjang ruas utama kerangka rumah diperlukan dua orang, sedangkan untuk mengangkat komponen yang sama dari bahan composite fiber hanya membutuhkan satu orang.

Composite fiber yang lebih banyak dikembangkan di China ini teknologinya sudah dikuasai ATMI. Pengembangan yang dilakukan ATMI tergolong berhasil. Keunggulannya, selain tahan korosi dan api serta kekuatannya relatif sebanding dengan besi kanal C, bahan composite fiber ini juga lentur. Hanya saja penggunaan composite fiber untuk rumah sederhana tahan gempa ini membutuhkan biaya yang lebih banyak karena harganya jauh lebih mahal.

Sterofoam

Salah satu keunggulan dari rumah tahan gempa ini adalah material dinding yang juga knock down. Beberapa alternatif yang ditawarkan antara lain dinding dari bahan panel sheet metal dengan pelapis akhir powder coating (semacam pelat besi yang dilapisi pelindung karat), flexon atau beton ringan, dan yumen (serat kayu yang dipres).

Inovasi Atmi terletak pada penggunaan teknologi flexon untuk dinding. Teknologi ini cukup familiar di kalangan industri perminyakan karena sering digunakan untuk menambal sumur-sumur bor. Meski demikian, penggunaan teknologi flexon pada konstruksi rumah memang baru diterapkan oleh ATMI.

Flexon yang digunakan untuk dinding rumah ini terbuat dari campuran semen dan sterofoam. Ide dasarnya, semen merupakan material yang kuat dan mempunyai nilai ekonomis yang memadai. Untuk menjawab persoalan mengurangi beban yang harus ditopang struktur kerangka utama, diperoleh jawaban dengan menggunakan sterofoam untuk campuran dinding beton.

Ketebalan dinding dari flexon ini hanya 4-5 cm sehingga jauh lebih ringan dari dinding tembok atau batako yang jauh lebih tebal. Meski tergolong tidak tebal, kekuatan flexon ini bisa diandalkan, dalam bahasa Triatmoko bisa dipertanggungjawabkan. Uji tekan yang dilakukan pada flexon ternyata mampu bertahan dalam tekanan 230 kg per cm².

Bahkan dinding flexon ini juga tahan api dan sudah terbukti mampu bertahan saat diuji dengan oven pada suhu 200 derajat Celsius selama 12 jam. Mencetak flexon memang bisa dilakukan oleh orang kebanyakan, asalkan mengikuti komposisi yang dianjurkan ATMI. Persoalannya, untuk mencampur semen dan sterofoam dibutuhkan cairan kimia atau chemical untuk mengikat polisteris dari sterofoam dengan semen. Justru chemical inilah kunci dari teknologi flexon, dan cairan ini murni temuan ATMI. Triatmoko mengaku, penemuan ini ke depan akan dipatenkan.

Penggunaan sterofoam untuk memperingan persoalan beban ternyata tidak tercetus begitu saja. Alternatif bahan lain sempat diuji coba oleh ATMI, antara lain kulit gabah, merang, dan serat kayu. Pilihan jatuh pada sterofoam karena ATMI juga ingin menjawab persoalan sampah sterofoam yang selama ini tidak bisa dimusnahkan ataupun di daur ulang.

Uniknya, pengadaan streofoam parut yang digunakan untuk campuran flexon ini melibatkan pemulung. Triatmoko memiliki pemikiran, penggunaan bahan ini bisa meningkatkan pendapatan pemulung sekaligus mengurangi sampah sterofoam yang tidak bisa dimusnahkan atau di daur ulang. Teknologi ini juga bisa dikembangkan untuk atap rumah.

Flexon juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sekadar perbandingan, untuk tiap meter persegi tembok bata membutuhkan biaya Rp 90.000-Rp 100.000. Sementara untuk bahan yumen, pada luasan yang sama membutuhkan biaya Rp 70.000-Rp 80.000. Dengan menggunakan bahan flexon, tiap meter perseginya hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 35.000.

Sayangnya, teknologi ini tidak bisa diterapkan untuk lantai karena kurang memiliki fleksibilitas. Meski demikian, ATMI menawarkan beberapa alternatif bahan untuk menjawab persoalan tersebut, antara lain dengan kayu, multipleks, dan beton cor.

Megaproyek

Jika sejak awal selalu disampaikan mengenai konsep rumah murah, maka orang akan bertanya-tanya seberapa ekonomiskah rumah rancangan ATMI ini. Sekadar pembanding, Triatmoko menyampaikan, untuk membangun rumah konvensional dengan tembok, tiap meter perseginya membutuhkan biaya Rp 1-1,5 juta. Sedangkan rumah tahan gempa produksi ATMI ini untuk luasan yang sama hanya membutuhkan Rp 500.000. Untuk membuat rumah tipe 36, ia memperkirakan, hanya membutuhkan biaya Rp 20-25 juta.

"Keunggulan lainnya, konstruksi knock down memungkinkan adanya perluasan bangunan, baik melebar ke samping maupun ke atas (tingkat). Jadi, penambahan ruang bisa dilakukan seiring dengan meningkatnya penghasilan si empunya rumah atau kebutuhan karena bertambahnya jumlah anggota keluarga," tutur Triatmoko.

Rumah tahan gempa ini bahkan sudah teruji. Tiga prototipe yang dibuat di Pulau Breh, Kepulauan Aceh, pada Februari lalu dan sempat diresmikan sejumlah tokoh agama nasional ternyata mampu bertahan saat menghadapi gempa susulan. Menurut Triatmoko, dengan kekuatan gempa sebesar 6,1 skala Richter dan 8,3 skala Richter beberapa waktu yang lalu, ketiga rumah tersebut ternyata masih utuh.

Pada bulan April-Juni mendatang akan dibangun sekitar 300 rumah sederhana tahan gempa di pulau tersebut. Tak hanya itu, sejumlah negara dari Afrika, yakni Mali dan Ghana, sudah mempertanyakan kemungkinan digunakannya teknologi tersebut di negara mereka. Bahkan, lembaga Selavipe dari Chili, yang hingga kini telah membangun sejumlah 350.000 rumah sederhana untuk rakyat miskin, juga tertarik untuk mengembangkan rumah buatan ATMI ini. (C Wahyu Haryo Priyo Sasongko)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Rabu, 19 September 2007

Rumah Adat

Bambang Sutrisno -- Tuty Mulyati
Inspirasi Rumah Joglo

Untuk menambah koleksi pernik dekorasi interior, pemilik rumah ini gemar menjelajahi desa-desa di Jawa.

Meski terlahir dan tumbuh besar di ibu kota, Bambang Sutrisno tak pernah melupakan akar budayanya. Begitu cintanya dengan kebudayaan Jawa, pengusaha binatu ini mencoba menghadirkan rumah joglo dengan sentuhan modern di kawasan selatan Jakarta. Seluruh ide rancang bangun datang dari pemikirannya sendiri.

Bambang yang hobi traveling gemar memerhatikan detail bangunan khas Jawa. Itu pula yang membuatnya enggan memakai jasa arsitek. ''Kontraktor membangun berdasarkan sketsa yang saya sodorkan,'' ujar Bambang.

Dari jalan umum, rumah Joglo milik Bambang tampak amat mencolok. Betapa tidak, joglo mantan bankir ini dibangun setinggi 10 meter. ''Sengaja saya buat tinggi agar berkesan lapang,'' cetusnya.

Dari halaman, rumah joglo yang berdiri di lahan seluas 1.500 meter persegi ini terlihat mirip pendopo. Cukup sering Bambang menjamu tamunya di teras. ''Enak sekali mengobrol santai sambil menikmati kolam air mancur,'' ujarnya. Bambang penyuka air. Tak heran jika ia lantas melengkapi sisi depan, samping, dan belakang rumahnya dengan kolam. ''Mungkin karena bintang saya pisces,'' katanya berseloroh.

Belakangan, Bambang tak lagi bisa mendengar gemericik air dari kolamnya. Fountain-nya rusak dan belum ada yang dapat memperbaikinya. ''Kangen juga sama suara air.''

Bambang juga tak bisa menikmati kelincahan ikan-ikan koi peliharaannya. Terlebih, setelah ia membangun kamar-kamar peristirahatan di halaman belakang. ''Kolam ikan koi terpaksa saya tutup dengan terpal agar tidak terkena debu dari pengerjaan bangunan,'' ucap ayah dua anak ini.

Untuk membangun kolam ikan koi, Bambang menyediakan lahan sedalam dua meter. Ini merupakan syarat sukses pertumbuhan badan ikan koi. ''Agar tak terkena air hujan, kolamnya saya buat tertutup dengan atap joglo yang puncaknya saya pasangi polycarbonate yang memungkinkan paparan sinar matahari ke kolam,'' urainya.

Ikan koi merupakan hewan peliharaan Bambang satu-satunya. Meski darah Jawa kental mengalir di tubuhnya, pendiri PT Griya Sineas ini tak tergoda untuk memelihara burung. ''Repot mengurusnya,'' katanya memberi alasan. Kendati demikian, Bambang tak kuasa menahan diri untuk menggantungkan tiga kandang burung tanpa penghuni di pergola carport. Bambang menuturkan, ''Ini untuk aksen saja.'' Sementara itu, dua kandang ayam yang dibiarkan kosong mengapit teras rumah Bambang.

Semi galeri
Bambang merasa tak pernah kehabisan ide untuk mendekorasi dan merenovasi rumah. Apalagi, ia gemar menjelajahi desa-desa di Jawa untuk menambah koleksi pernik dekorasi interiornya. ''Selain guci-guci antik dari Cina dan Jepang, saya senang berburu furnitur Jawa klasik,'' cetusnya.

Patung loroblonyo adalah koleksi favorit Bambang. Ia merasa rumah joglonya belum lengkap tanpa keberadaan patung pria dan wanita yang berpakaian adat Jawa tersebut. ''Begitu melihat loroblonyo berukuran besar, langsung saya beli. Zaman sekarang, sulit mencarinya.''

Selain patung dan guci, kediaman Bambang berhiaskan lukisan karya Basuki Abdullah. Lantas, furnitur antik seperti gerobak Madura dan peti rotan tertata apik di sudut-sudur rumahnya. ''Bisa dibilang, rumah saya semi galeri,'' komentar pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1953 ini.

Menggandrungi kebudayaan Jawa, Bambang juga menaruh minat besar pada ketrampilan seni orang-orang Bali. Ia mendatangkan langsung seniman Bali untuk meniru model gerbang candi Bali lengkap dengan sepasang patung dewi di sudut halaman belakang kediamannya.

Bambang punya pengalaman menggelikan soal keberadaan 'candi' kecilnya. Orang yang melihatnya sering terkecoh. ''Mereka pikir di balik pintu ada ruangan. Padahal, itu hanyalah dekorasi belaka,'' ujarnya.

Tak bersekat
Mementingkan kehangatan hubungan antaranggota keluarga, Bambang tak suka rumah yang bersekat-sekat. Iapun membiarkan rumahnya lapang tanpa dinding pembatas antarruang. ''Karena itu pula saya membenci rumah bertingkat. Saya berupaya mempunyai lahan yang luas agar seluruh kamar berdekatan dan aktivitas keluarga terpusat di satu lantai,'' cetusnya.

Begitu menjejakkan kaki dari pintu masuk, seisi rumah Bambang tersapu pandangan mata. Fungsi ruang dibedakan dengan mengelompokkan sofa atau kursi bersama furnitur pendukung. Tamu biasa dijamu di bagian tengah rumah.

Pembagian ruang ini menjadi amat unik lantaran terbingkai oleh empat pilar penyangga joglo. Agar lebih artistik, tiang-tiang kayu tersebut dipercantik dengan ukiran tempel. Lantas, ruang utama ini juga dihiasi dengan ukiran Jepara yang membentang. ''Ukirannya saya pesan berwarna emas kemerahan agar tampak mewah,'' ungkap Bambang.

Saat ini, Bambang sibuk mengawasi perluasan rumahnya. Di halaman belakang tengah dibangun pondok peristirahatan berbentuk rumah panggung. ''Pastinya mengasyikkan melewati malam sambil memandangi pekarangan yang rimbun dan bermandikan lampu sorot. Romantis, rasanya.'' Agar rumahnya tampak tradisional, Bambang memilih atap dari bahan alami. Pilihannya jatuh pada alang-alang. ''Biar tidak mudah terbakar, atap tetap saya lapisi dengan genteng. Yang penting, kami bisa merasakan nuansa rumah kampung,'' katanya menandaskan. Serasa di desa, ya, Pak!


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Rabu, 22 Agustus 2007

Arsitektur Banjar, Keindahan Rumah Tropis yang Makin Langka

Arsitektur Banjar, Keindahan Rumah Tropis yang Makin Langka

JIKA berkunjung ke Kalimantan Selatan, jangan lupa perhatikan rumah-rumah penduduk dan kantor-kantor pemerintahan. Bangunan rumah banjar, merujuk nama suku yang mendiami provinsi seribu sungai, ini didominasi oleh rumah panggung. Tetapi, bukan itu yang menjadi daya tariknya.

HAL yang menarik adalah bentuk rumah dan hiasan atau ornamennya yang khas Banjar dan khas daerah tropis. Mayoritas rumah warga didominasi bahan baku kayu dan kayunya pun bukan sembarang kayu, yaitu kayu ulin. Rumah banjar asli juga kaya dengan berbagai ornamen.

Salah satu rumah banjar yang megah di jantung Kota Banjarmasin adalah rumah dinas Gubernur Kalimantan Selatan. Rumah tersebut didominasi berbagai motif ukiran yang terbuat dari kayu ulin. Atapnya yang menjulang tinggi itu terbuat dari sirap kayu ulin pula. Di luar dan di dalam ruangan penuh dengan berbagai ornamen banjar.

Syamsiar Seman, budayawan Banjar yang juga penulis belasan buku soal budaya Banjar, salah satunya buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, mengemukakan bahwa rumah kediaman gubernur menerapkan rumah adat banjar tipe bubungan tinggi.

Rumah gubernur hanya salah satu saja di antara bangunan khas Banjar di Kalimantan Selatan. Kantor-kantor lain yang dibangun beberapa dekade yang lalu juga menerapkan arsitektur tradisional Banjar dengan tipe kebanyakan bubungan tinggi.

Rumah banjar tidak hanya kaya dengan ornamen, namun juga kaya dengan corak atau tipe. Syamsiar Seman merinci dalam delapan ciri rumah adat banjar. Dari delapan ciri itu, jumlah tipe rumah adat yang bisa ditemui mencapai 11 tipe.

Kedelapan ciri arsitektur rumah adat banjar itu adalah bangunan berbahan kayu, rumah panggung yang didukung tiang dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang sekarang makin langka, tipe simetris sayap kiri dan kanan seimbang, sebagian bangunan memiliki anjung (ruangan yang menjorok ke samping) di kanan dan kiri.

Selain itu, atap rumah terbuat dari sirap kayu ulin dan hanya memiliki dua tangga, yaitu tangga depan serta tangga belakang dengan jumlah anak tangga biasanya ganjil. Pintu hanya ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang yang berada di tengah-tengah, dan terakhir adanya dinding pembatas (tawing halat) antara ruang depan dan ruang tengah.

Dari delapan ciri tersebut di masyarakat lahir 11 tipe rumah banjar. Salah satu yang dianggap tipe paling tua, menurut Syamsiar Seman, adalah tipe bubungan tinggi. Rumah tipe ini dikenal sebagai rumah bangsawan, dan pada zaman dulu merupakan istana Sultan Banjar.

Rumah kediaman gubernur secara umum mengadopsi ciri-ciri bubungan tinggi. Bangunannya terlihat megah dengan ukuran besar dan memanjang, serta memiliki tiang-tiang tinggi. Memiliki ruangan yang menempel pada samping kanan kiri rumah atau disebut anjung (konstruksi pisang sasikat).

Atap terlihat membubung tinggi berbentuk lancip dengan konstruksi atap pelana, membentuk sudut 45 derajat, khas rumah tropis. Menjorok ke depan terdapat bangunan atap memanjang yang disebut atap sindang langit.

Untuk menuju rumah panggung, terdapat tangga depan (tangga hadapan) di kanan kiri tangga terdapat semacam "pagar" yang diukir dengan motif bunga dan hiasan buah nanas.

Lepas dari tangga, terdapat palatar yang digunakan untuk tempat santai. Di sisi kanan kiri palatar terdapat pagar pengaman atau kandang rasi yang kaya dengan hiasan juga.

Bagian dalam rumah terdapat beberapa ruangan, yaitu ruangan kecil (panampik kecil), ruangan tengah (panampik tengah), dan ruangan besar (panampik basar). Setelah ruangan besar terdapat dinding pembatas dengan dua pintu kembar di kanan kirinya kaya dengan berbagai ukiran, mulai bentuk bunga, daun, hingga kaligrafi Arab.

Melewati tawing halat terdapat ruangan dalam yang disebut palidangan. Di bagian belakang ada ruangan bawah (panampik bawah) dan paling belakang ada dapur (padapuran).

SELAIN bubungan tinggi, terdapat 10 tipe rumah lainnya yang lebih muda umurnya, yaitu gajah baliku, gajah manyusu, balai laki, balai bini, palimasan, palimbangan, cacak burung atau anjung surung, tadah alas, joglo banjar, dan lanting.

Menurut Syamsiar, gajah baliku biasa dihuni saudara sultan, gajah manyusu dihuni keturunan raja dan para anggota keluarga bergelar gusti. Balai laki merupakan rumah tinggal punggawa mantri dan prajurit kesultanan Banjar.

Sedangkan rumah balai bini dulu dihuni para putri atau keluarga Sultan Banjar dari pihak wanita. Tipe palimasan dulu dihuni bendaharawan kerajaan yang memiliki emas dan perak, dan juga para saudagar dan pedagang kaya.

Tipe palimbangan dihuni para para tokoh agama dan ulama juga para saudagar kaya seperti pedagang intan. Cacak burung atau anjung surung biasa dihuni masyarakat kebanyakan, seperti petani dan pedagang kecil.

Setelah rumah-rumah di atas, kemudian lahir berbagai modifikasi. Di antaranya tadah alas yang merupakan modifikasi balai bini. Kemudian ada joglo banjar yang merupakan adaptasi dari joglo jawa, biasa dihuni para pedagang China yang memerlukan ruangan lebar untuk gudang dagangan.

Tipe rumah terakhir yang kontroversial adalah rumah lanting, yaitu rumah kecil yang terapung di pinggir sungai. Rumah portable ini sering tergusur berbagai proyek pembangunan karena dianggap membuat wajah kota semrawut.

Kini berbagai bentuk rumah itu memang masih dapat dijumpai, baik sebagai rumah rakyat maupun rumah pejabat dan perkantoran. Meski demikian, lambat laun bangunan-bangunan baru hadir tanpa mempertimbangkan lanskap (bentang lingkungan) arsitektur banjar yang sudah tertata itu.

"Sekarang ini Banjarmasin diserbu rumah toko yang desainnya semena-mena, tidak mempertimbangkan kepatutan budaya," papar Taufik Arbain, pemerhati budaya Banjar yang juga aktivis Center for Regional Development Studies (CRDS) Kalimantan Selatan.

Taufik mencontohkan, bangunan baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin di Jalan Ahmad Yani, Banjarmasin, yang berada di jalan protokol yang mengadopsi murni joglo jawa. Seharusnya, menurut Taufik, tidak selayaknya bangunan rumah publik tersebut di tengah lanskap arsitektur banjar.

"RSUD Ulin yang berarsitektur joglo jawa adalah sebuah malapetaka budaya yang cukup kuat untuk melegitimasi bahwa kita benar-benar lupa akan komitmen melestarikan budaya," tegas Taufik. Taufik mempertanyakan, mengapa desain bangunan publik seperti itu disetujui pemerintah?

Sastrawan dan budayawan Banjar yang juga pengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, Jarkasi, mengemukakan, bangunan di tepi jalan raya dan bangunan publik memang tidak semestinya mengabaikan konteks budaya lokal. Walau begitu, lanjutnya, bangunan-bangunan itu tidak harus 100 persen memaksakan diri menjadi bangunan Banjar.

"Kami tidak menuntut muluk-muluk bangunan publik harus bertipe rumah banjar 100 persen. Akan tetapi, hanya dengan mengadopsi ornamen-ornamen budaya Banjar pun sudah cukup. Kami sadar bahwa segala sesuatu itu dinamis," kilah Jarkasi.

Arsitektur rumah banjar tampaknya akan tergusur rumah modern mengingat sikap pasif pemerintah. Banyak bangunan "asing" yang terus bermunculan di antara rumah- rumah tradisional. Rumah adat banjar yang megah khas tropis itu kini terus diempas badai modernisasi. (Amir Sodikin)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

29 Kata Kunci Rumah dari Om Google

Inilah 29 hasil pencarian om google tanggal 22 Agustus 2007 dengan kata kunci "rumah" :

1 . arsitektur
2 . arsitektur modern
3 . arsitektur rumah
4 . bangun rumah
5 . beli rumah
6 . cari rumah
7 . denah rumah
8 . desain
9 . desain arsitektur
10 . desain interior
11 . desain rumah
12 . design rumah
13 . gambar
14 . gambar masjid
15 . gambar rumah
16 . harga rumah
17 . iklan rumah
18 . jual beli rumah
19 . jual rumah
20 . membangun rumah
21 . minimalis
22 . renovasi
23 . renovasi rumah
24 . rumah
25 . rumah adat
26 . rumah minimalis
27 . rumah murah
28 . rumah sederhana
29 . rumah tinggal


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872