Selasa, 25 Desember 2007

Kiat Membangun Rumah Asri tetapi Murah

Kiat Membangun Rumah Asri tetapi Murah

TAK sulit menciptakan rumah yang asri, nyaman, aman, sekaligus murah. Kuncinya terletak pada niat dan kesungguhan, pemilik rumah maupun tetangga yang tinggal di sekitarnya.

Salah satu jalannya ialah pembangun rumah merancang rumah itu secermat mungkin, agar bukan saja menghemat biaya, meraih kenyamanan, tetapi sekaligus tidak mencabut akar kebudayaan masyarakat setempat.

Bagaimanapun kalau kita kembali ke dalam kehidupan nenek moyang, dan kembali ke selera asal nenek moyang, kita akan banyak belajar mengenai seni membuat bangunan," ungkap Ketua Dewan Penasihat Pembangunan Kota Semarang, Eko Budihardjo kepada Kompas pekan lalu. Dari nenek moyanglah, tutur Eko, kita belajar tentang kearifan menentukan bahan bangunan yang murah dan kuat. Apalagi, kalau bahan-bahan sederhana seperti batu dan bambu-yang diikat dengan jerami-akan semakin tampaklah keindahan, keunikan dan variasi yang diciptakan.

Bahkan, dari hasil karya sederhana itu, kita kian mampu menunjukkan karakteristik dari masing-masing pribadi. "Misalnya, karakteristik Jawa yang terkenal dengan seni bambunya. Ataupun bahan-bahan lain yang kita jumpai di daerah-daerah Indonesia bagian timur," jelas Rektor Universitas Diponegoro, Semarang.

Eko menyayangkan keunikan itu kini telah luntur, dan digantikan oleh perumahan-perumahan yang bergaya Eropa, Amerika Serikat dan berbahan baku dari kedua benua itu. Model bangunan-bangunan yang tercipta kerap kali tidak lagi menekankan pentingnya beranda depan dan belakang. Padahal, hal ini merupakan simbol kultural di sini. Tipikal rumah-rumah yang ada di pinggiran atau bahkan di kota-kota besar, seperti Jakarta meneguhkan pandangan itu.

Para konsumen disodori rumah siap pakai, tetapi ternyata setelah sekian tahun digunakan, terdapat banyak kerusakan. "Sebetulnya, kita bisa menciptakan perencanaan pembangunan rumah yang sederhana. Masyarakat kita mempunyai kemampuan membangun rumah yang lebih baik, sederhana, dan murah," tutur Eko. Baru-baru ini, ujarnya, di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang, terdapat pembangunan perumahan-yang bertumpu pada prakarsa kelompok masyarakat.

"Masyarakat yang bahu-membahu dijadikan basis membangun rumah ini sudah dimulai oleh (Alm) Mangunwijaya di bantaran Kali Code, Yogyakarta," paparnya. Selain keunikan, ujar Eko, bentuk bangunan sebagai karya seni sosial yang melibatkan banyak orang dari pemilik sampai tukang bangunnya akan menciptakan keasriannya.

Sementara, kalau kita melihat bangunan di luar negeri (yang ternyata modelnya diambil begitu saja oleh masyarakat Indonesia, dengan segala interior ruangannya) karakteristik penghuni sebagai subyek penciptanya telah hilang. Padahal, tambahnya, dalam membentuk rumah, kita ibarat merancang dan menggunakan baju untuk penampilan jati diri. Eko yang menyitir pendapat Mangunwijaya berpendapat, bambu atau rotan mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan, meskipun terkadang bahan baku tradisional ini membuat orang kadangkala menjadi rendah diri, kurang percaya diri.

"Itulah manusia yang sering disebut sawung sinawang," jelasnya tentang pola hidup orang yang suka melihat dan mengikuti begitu saja trend negara tetangga. Semestinya kita kembali pada kebudayaan dan menumbuhkan kembali jati diri kita. Tanpa mau menyebut berapa biaya pembangunan rumah asri yang menekankan pembangunan rumah menggunakan bahan tradisional itu, Eko dengan tegas mengatakan, "Pembangunan dengan bahan-bahan tradisional akan jauh lebih murah dibandingkan dengan bahan-bahan baku modern.

Jadi, fenomena kultural dalam membangun rumah bukan hanya sekadar penampilan fisik bangunannya," jelasnya. Paling tidak, kata Eko, tips yang bisa digunakan sebagai patokan ialah, pertama, model Mix Housing di mana bangunan modern silakan dibangun, namun bangunan ciri khas kampung lama tetap harus dipertahankan. Dalam model ini, kita membiarkan kedua model itu hidup berdampingan untuk menggambarkan keragaman warganya.

Kedua, perumahan yang asri juga harus menyediakan sarana bermain, ibadat, sarana kesehatan, dan tempat terbuka untuk berkumpulnya para warga sekitar. Ketiga, upaya subsidi silang antara masyarakat kelas atas dan bawah harus tetap diadakan, sehingga menciptakan hubungan sosial yang akrab dan saling menghormati. Karena itu, tambah Eko, akan terhindarlah sikap eksklusivitas dalam hidup berumah tangga.

AGAR keasrian perumahan sederhana dapat terealisasi, diperlukan kebijakan pembangunan perkotaan. Menurut Arsitek-Urbanis Marco Kusumawijaya, bicara mengenai perumahan di Jakarta itu berat, karena kebijakan perumahan tidak nyambung dengan kebijakan pembangunan kota. Misalnya, masalah paling berat mengenai perumahan itu adalah tanah.

"Bagaimana perumahan bisa menjadi baik, kalau tanah tidak secara sistematik disediakan dalam kebijakan kota? Kebijakan kota bukan cuma dikatakan di dalam master plan bahwa daerah tertentu itu kuning sehingga dapat didirikan rumah," jelas penggiat Arsitek Muda Indonesia ini. Akan tetapi, kebijakan kota juga harus ada pengendalian harga, karena di seluruh dunia, masalah rumah itu sangat menyangkut masalah tanah. Begitu kita bicara sistem kapitalis, harga tanah itu penting sekali dalam komponen seluruh harga rumah.

Jadi, ujarnya, kalau ada yang mengatakan Jakarta itu kota yang padat, kita harus melihat dulu seperti apa padatnya itu. Sebab jika dilihat dari atas, ternyata di belakang gedung-gedung bertingkat itu terdapat lahan yang kosong. Tampak sekali adanya over-speculation. Ketua Masyarakat Lingkungan Binaan ini berpendapat, "Banyak orang mengatakan bahwa Jakarta menuju kota jasa, karena itu harus membutuhkan lebih banyak tanah untuk bisnis.

Padahal, itu hanya omong kosong dan tidak ada alasan rasional. Anehnya, tidak ada perhitungan yang rasional dan terbuka kepada masyarakat, mengapa dibutuhkan sekian ruang bisnis dan mengapa tidak dibuka lebih banyak perumahan untuk kelas menengah dan kelas bawah?" Di Indonesia, ujar Marco, pengembang sendirilah yang diserahkan untuk membebaskan tanah, membangun sampai menentukan fungsi bangunan, entah untuk perkantoran, mal, perumahan.

Semua tergantung pada developernya, sehingga developer tentu memilih agar tanah dan bangunan tersebut bisa cepat menguntungkan. Dengan demikian, tentu mereka tidak akan memikirkan kebutuhan kota. Padahal, yang seharusnya memikirkan pembangunan kota bukan pengembang, melainkan birokrasi kota, sehingga terjadi keseimbangan antara hunian dan fungsi lainnya.

Keseimbangan ini berguna, pertama, untuk melindungi perumahan karena dia tidak akan mampu bersaing. Nilai tanah untuk perumahan akan kalah bersaing dengan nilai tanah untuk fungsi lain. Nilai di sini dalam arti nilai kapitalistik, bukan nilai guna. "Jadi, kalau kelas menengah saja begitu, apalagi kelas bawah. Tentu, kelas bawah ini harus dibantu semaksimal mungkin. Tidak bisa tidak," papar Marco.

Untuk itu, kata Marco, kita membutuhkan kebijakan pembangunan. Artinya, program perumahan hanya dapat berhasil, kalau ada kebijakan pemerintah yang sadar dan mengintegrasikan perumahan atau menyatakan kepentingan perumahan sebagai bagian utama dari pembangunan kota secara keseluruhan. Misalnya, menyediakan tanah, mengendalikan fungsi tanah melalui perusahaan-perusahaan daerah, dan mengendalikan harga tanah melalui tanah-tanah negara yang masih dikuasainya.

"Alasannya, perumahan tidak dapat dibiarkan diputuskan oleh logika dari masing-masing perusahaan. Mengenai perumahan, hal inilah yang mendesak dan perlu kebijakan yang sifatnya struktural, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan dan kebijakannya. Kalau tidak, akan sulitlah memecahkan masalah perumahan bagi masyarakat baik kelas menengah maupun kelas bawah," jelasnya.

Selain tanah, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana alat transportasi bukan sekadar mengikuti pasar, melainkan juga berdasarkan keinginan mengendalikan pembangunan kota. Pertanyaannya, mungkinkah menciptakan perumahan yang sesuai dengan kocek pendapatan masyarakat kelas bawah? "Subsidi tidak hanya dari pemerintah, melainkan juga bisa dari perusahaan atau pabrik yang menyediakan mes bagi karyawannya. Kalau kita bicara cost bangun rumah, maka kalau tanah (sekalipun) digratiskan untuk masyarakat kelas buruh, belum tentu mereka bisa membangun rumah," ujar Marco. Sebetulnya, kata Marco, yang diperlukan kalangan masyarakat kelas bawah itu adalah shelter yang baik sehingga mereka bisa lebih produktif dan menghasilkan banyak uang untuk ditabung.

Lalu, hasil tabungannya itu bisa dibelikan rumah di tempat lain, mungkin dengan cara kredit atau cash. Tanah negara, menurut Marco, tidak usah dijualbelikan kepada masyarakat kelas bawah. Mereka lebih membutuhkan hunian yang baik dan sehat, sehingga mereka justru bisa melakukan produktivitas maupun reproduktivitas sosial dengan baik pula.

Bagaimanapun negara harus tetap menguasai sejumlah tanah yang selalu bisa dimanfaatkan untuk membantu kaum lemah. Yang sudah dibantu, diharapkan kelak lulus, sehingga bisa beli rumah di tempat lain. Tetapi, tanah negara harus bisa digunakan untuk kaum lemah yang berikutnya, sehingga prinsip bergulir tetap berjalan. "Karena itu, masalah perumahan terdapat hal-hal yang sifatnya kultural, masyarakat harus diberdayakan, tetapi kita tidak bisa mengabaikan masalah struktural seperti tanah yang harus ditangani oleh kebijakan pemerintah," ujarnya.

Masalahnya, bagaimana menentukan kalkulasi pembangunan perumahan untuk kaum lemah? Marco menuturkan, semua kalkulasi itu membutuhkan research teknik membangun rumah dan bahan bangunan yang murah. Arsitek tetap harus dibayar, meskipun perumahan itu untuk kalangan bawah. "Yang harus menyubsidi untuk kegiatan sosial ini bukan arsiteknya, melainkan penyandang dana. Kalau arsiteknya disuruh menyubsidi, lalu biaya kreativitas pembuatannya itu dipotong-potong, hal itulah yang bisa membuat dia malas," ujarnya.

Bercermin dari prinsip arsitek di India, Marco berpendapat, para arsitek itu bekerja dengan profesional dan dibayar, kendati tidak sangat tinggi dibandingkan ketika mereka membangun gedung mewah. Tetapi jelas ada penghargaan yang pantas untuk proses kreativitas para arsitek. "Adalah salah, bila kita menganggap bahwa merancang rumah sederhana itu sebagai pengabdian kepada masyarakat, lantas arsitek itu tidak dibayar. Itu justru tidak profesional," katanya.

Secara keseluruhan, jelas Marco, banyak hal yang harus digerakkan melalui kebijakan, membuat arsitek tertarik berkreasi. Research mengenai bahan bangunan, dan sistem pendanaan. Sistem pendanaan ini penting, katanya, di antaranya untuk menghemat banyak hal, termasuk biaya pembangunan fisik.

Menurut Fact Sheet yang diterbitkan Pusat Hak Asasi Manusia dalam rangka proyek World Campaign for Human Rights, perumahan yang layak dijabarkan dalam "Strategi Global" sebagai lingkungan pribadi, ruang, keamanan, penerangan dan ventilasi, prasarana dasar dan lokasi yang layak dengan memperhatikan pekerjaan dan fasilitas dasar dan semua dengan harga yang layak. Menurut Marco, batas minimum ialah standar yang tidak dapat dilanggar.

Artinya, sampai batas tertentu, cost rumah itu tidak bisa lagi dipotong-potong. Yang bisa dipotong-potong ialah biaya uang. Kalau uang itu dipinjam, tentu ada bunga dan waktunya. Intinya, antara kebijakan perkotaan harus ada integrasi dengan kebijakan pembangunan perumahan. Kebijakan perkotaan, antara lain, bertugas mengarahkan untuk mengatur tanah, lokasi, prasarana, dan transportasi. Selain integrasi kebijakan itu, tambah Marco, ada beberapa tips agar pengadaan perumahan dapat terealisasi.

Pertama, janganlah berpikir untuk memiliki rumah bagi mereka yang ada di bawah umur 35 tahun. Mungkin, untuk kelas bawah pada usia di bawah umur 40 tahun. Alasannya, untuk kelas menengah saja, masalahnya terletak pada uang muka. "Harga tanah biasanya tidak terkejar oleh orang muda kelas menengah, apalagi kalau mereka baru lulus atau baru bekerja. Di luar negeri pun demikian," katanya.

Uang muka untuk beli rumah, menurut Marco, bisa sampai sekitar 70 persen masih ditanggung oleh orangtua. Sedangkan untuk warga kelas bawah, jangan menggunakan uang muka, melainkan menggunakan sistem cicilan, entah tiap hari, minggu, atau bulan. Jadi, salah satu kemungkinannya adalah sistem sewa beli. Setelah mencicil sekian tahun, akhirnya mereka bisa memiliki. Namun, kembali lagi kepada prinsip, tanah negara sebaiknya jangan jadi milik person, sebab biar bagaimanapun negara perlu memiliki stok tanah untuk mengendalikan keseimbangan kehidupan.

Kedua, kata Marco, harus terjadi kolektivitas, sehingga harga dapat ditekan semurah mungkin. Lalu, dari kolektivitas itu harus juga terjadi kesediaan dari masing-masing warga untuk dapat bertata krama. Bukankah orang datang ke kota, karena banyaknya keragaman. Begitu juga orang miskin, mulai dari MCK yang dapat digunakan secara bersama-sama sampai ruang terbuka yang baik untuk berkumpul.

Kolektivitas itu membutuhkan organisasi politik, dalam arti mengupayakan kepentingan bersama dan memberdayakan kemampuan individu menjadi kemampuan bersama. Ketiga, dalam membangun rumah yang layak, arsitek perlu mempertimbangkan baik fisik bangunan agar tidak mudah roboh, melainkan juga kultural masyarakatnya yang sering menggunakan simbol-simbol budaya. Bukan modernisasi yang dipaksakan begitu saja, karena dari ruang yang sama ukurannya, tetapi kalau letaknya berbeda, tetap akan beda efisiensi, efektivitas, dan maknanya.

Misalnya, ruang terbuka yang semakin besar, tidak berarti semakin baik. Alasannya, semakin ruangan besar, semakin pula banyak orang asing bisa masuk, sehingga tidak aman. Pembangunan rumah, menurut Marco, tergantung dari gaya hidup dan lokasi. Kalau lokasi baik, silakan saja dibangun. Akan tetapi, kalau membahayakan warga, sebaiknya dihindari, karena hal ini tidak manusiawi.

Bukan berarti pembangunan rumah kaum lemah oleh Mangunwijaya di bantaran sungai Kali Code, Yogyakarta, berhasil, lantas semua bantaran sungai diizinkan untuk dibangun rumah. Kita jangan terlampau cepat menggeneralisasi masalah. Yang menjadi pertanyaan, masih adakah arsitek dan pengembang sarana publik yang tergerak hatinya untuk merancang kawasan atau bangunan yang diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat?
(idionline/Net)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Menyiasati Anggaran, Rumah Tumbuh Daur Ulang

Menyiasati Anggaran, Rumah Tumbuh Daur Ulang

Nusya Kuswantin

Begitulah judul resep menyiasati kesumpekan anggaran dalam membangun rumah yang selama ini telah diterapkan oleh banyak warga negeri ini, terutama di daerah. Sembari ditempati, rumah diperluas dan disempurnakan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan keuangan.

Memang akan butuh waktu agak lama sampai rumah tampak benar-benar sempurna, tetapi cara ini banyak ditempuh karena secara ekonomis dianggap lebih realistis dibandingkan, misalnya, apabila setiap tahun harus mengeluarkan dana yang juga besar untuk membayar sewa rumah.

Menyukai kondisi

Orang-orang yang perfeksionis, yang cenderung menyukai kondisi yang serba rapi, atau orang yang kurang bisa bertoleransi terhadap situasi darurat yang terus-menerus dalam waktu lama, mungkin tidak menyukai ide rumah tumbuh perlahan-lahan seperti ini. Karena dalam waktu beberapa tahun pemandangan rumah akan tampak menyebalkan dengan adanya bagian-bagian rumah yang belum sempurna, dan di sana-sini kemungkinan akan didapati tumpukan bahan-bahan bangunan. Pemandangan seperti ini bagi sementara orang mungkin saja bisa menjadi penyebab stres.

Tetapi sebaliknya, membangun dengan cara mencicil sedikit demi sedikit ini bisa menjadi aktivitas jangka panjang yang mengasyikkan bagi orang-orang yang senang keterampilan bangunan atau orang-orang yang suka terlibat langsung dalam proses pengerjaan rumahnya. Khususnya acara berburu bahan-bahan bangunan bekas—yang masih bisa didaur ulang—bisa menjadi petualangan tersendiri yang tak kalah menarik.

Pasangan Nugroho dan Asri, warga kampung Wirengan, Solo, telah beberapa tahun terakhir ini berburu bahan bangunan bekas, bahkan sampai ke Jakarta. Bukan hanya kusen, daun pintu, dan daun jendela kayu jati saja yang telah mereka kumpulkan sedikit demi sedikit. Bahkan mereka juga membeli genteng dan keramik bekas.

Pasangan tersebut mulai menambah ruangan di rumah mereka tahun ini ketika aneka bahan dan tabungan sudah cukup terkumpul. ”Ini genteng bekas,” ujarnya sambil menunjuk genteng yang tampak seperti baru. Ia mengaku telah mencuci dan menggosok genteng bekas itu satu per satu dengan sikat hingga tampak seperti baru kembali.

”Genteng bekas ini kualitasnya sangat baik. Entah sudah berapa puluh tahun usianya. Saya mendapatkannya di lokasi bangunan yang dibongkar,” tambahnya. Ia memanfaatkan lantai keramik bekas yang tidak utuh lagi sebagai lantai mosaik untuk beranda dan taman. ”Memang agak njlimet pengerjaannya, dan yang begini ini harus saya tangani sendiri agar sesuai selera,” lanjutnya.

Pengerjaan rumah

Dari cara mereka bercerita yang penuh antusiasme tampak bahwa pasangan Nugroho dan Asri menikmati keterlibatan mereka dalam pengerjaan rumah tumbuh daur ulang mereka. Tentu tak seluruhnya menggunakan bahan bekas. ”Saya juga mengumpulkan engsel, handel pintu, dan kunci serta selot jauh-jauh hari. Saya suka mampir ke toko bangunan dan melihat-lihat kalau ada yang cocok di hati maka saya beli,” katanya.

Bangunan awal

Bagian yang perlu dibangun paling awal adalah bangunan induk atau ruang yang letaknya dianggap sebagai titik awal bangun serta fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus). Asalkan bangunan ini telah berdiri dan ada genteng di atasnya—syukur-syukur apabila bagian lantai bisa diplester dengan semen—maka ini sudah bisa dianggap layak huni. Tak perlulah tembok dipelur terlebih dahulu apabila dana tidak memungkinkan karena memelur tembok bisa dilakukan sembari rumah ditempati.

Bisa pula untuk selamanya tembok tak perlu dipelur dengan adonan semen dan pasir, dan ini akan memberikan kesan rumah model country asalkan batu batanya berkualitas baik (kuat, padat, tidak mudah pecah, permukaannya halus, dan tidak berpori). Demikian juga dengan adonan semen pasir perekat batu batanya memiliki komposisi yang cukup baik sedemikian rupa sehingga tidak mrotoli atau rapuh dan tidak berpori apabila sudah kering.

Ruang atau bagian yang lain dibangun menyusul apabila memang bahan-bahan dan dana, paling tidak untuk membuat satu ruangan tambahan, sudah mencukupi. ”Beginilah cara kami membangun rumah,” kata Nugroho, seolah mengingatkan bahwa membangun rumah adalah mungkin, kendati tak suka berutang. Yaitu dengan memanfaatkan bahan bangunan bekas yang harganya relatif jauh lebih murah daripada bahan baru harga toko, serta membuat perencanaan membangun satu ruangan per satu ruangan secara bertahap.

Nusya Kuswantin Pemerhati Rumah

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Membangun Rumah Sederhana Tahan Gempa

Membangun Rumah Sederhana Tahan Gempa

RUMAH merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia setelah sandang dan pangan. Sebagaimana pangan yang memiliki kaidah-kaidah kelayakan pangan yang meliputi empat sehat lima sempurna, begitu juga dengan papan atau rumah memiliki kaidah-kaidah layak huni. Agar bangunan memiliki keandalan, bangunan tersebut harus memenuhi aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Bangunan Gedung No. 28/2002.

Keselamatan bangunan meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, yang meliputi beban sendiri dan beban yang ditimbulkan oleh fenomena alam seperti angin dan gempa. Selain itu, juga meliputi kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.

Persyaratan kesehatan meliputi sistem penghawaan, pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan gedung. Sistem penghawaan meliputi pengaturan ventilasi dan pencahayaan alami atau buatan di mana setiap ruangan harus terjadi pergantian udara dan mendapatkan pencahayaan yang cukup. Persyaratan kenyamanan meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antarruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. Kenyamanan ruang gerak ditentukan oleh dimensi dan tata letak ruang.

Persyaratan kemudahan mencakup hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung. Kemudahan juga meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia.

Teknologi konstruksi bangunan rumah tinggal menurut Kepmen Kimpraswil No. 403/2002 meliputi konstuksi pasangan dengan rangka beton bertulang, konstruksi � tembok, dan kontsruksi kayu panggung maupun tidak panggung. Selain itu, dikenal juga konstruksi rumah bambu dan konstruksi baja untuk rumah tinggal.

Bahwa sebagian besar perumahan diperkotaan maupun perdesaan saat ini telah bergeser pada bangunan tembok. Susenas 2000 menunjukkan sebanyak 86,03 persen perumahan perkotaan dan 71,28 persen perumahan perdesaan di Yogya menggunakan bangunan tembok. Tingginya animo masyarakat terhadap rumah tembok ini, diperlukan informasi khusus yang menyangkut kaidah-kaidah membangunan rumah tembok yang tahan gempa, mengingat hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki risiko gempa yang sangat tinggi.



Prinsip dasar

Prinsip dasar bangunan tahan gempa adalah setiap komponen-komponen bangunan harus terikat dengan kuat satu dengan yang lainnya, ikatan tersebut mulai dari fondasi dengan sloof, sloof dengan kolom praktis, kolom praktis dengan ring balok, dan ring balok dengan rangka kuda-kuda. Demikian juga pada bagian pengisi bahwa dinding pasangan bata/batako harus terikat dengan rangka kolom praktis, kusen pintu dan jendela harus terikat dengan dinding. Selain konstruksi yang benar faktor kualitas bahan juga harus mendukung karena pemilihan bahan yang kurang baik, akan mengurangi kekuatan bangunan, terutama pada ikatan-ikatan. Banyak bangunan yang roboh bukan karena konstruksi, tetapi kualitas bahan bangunannya yang sangat rendah.

Saat ini, di Jawa Barat jumlah bangun rumah tinggal dengan pasangan bata sangat tinggi, hal ini dipengaruhi oleh pergeseran persepsi, yang dikaitkan dengan status sosial, di mana bangunan tembok dianggap lebih baik. Namun, di samping itu keterbatasan bahan kayu juga semangkin mendorong masyarakat membangunan rumah berbasisi tembok, khususnya di Jawa Barat, karena sulitnya mencari kayu yang berkualitas harga rumah kayu menjadi sangat mahal dibandingkan rumah tembok.***

Ir. Arief Sabaruddin, C.E.S.
Peneliti Madya Bidang Perumahan dan Permukiman Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum.

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Sabtu, 22 Desember 2007

Tips Menata Rumah Mungil Agar Nyaman

Tips Menata Rumah Mungil Agar Nyaman

SAAT ini terbatasnya uang sudah tidak relevan lagi sebagaialasan memiliki rumah berukuran kecil. Keterbatasan lahan, apalagi dikota-kota besar, menuntut masyarakat untuk berhemat dalam mendirikanrumah.

BAHKAN masyarakat di perkotaan cenderung ingin memiliki rumah yangpraktis dan multifungsi, tetapi tetap nyaman untuk ditinggali. Tidakmengherankan jika gaya minimalis kerap digandrungi sehingga rumah-rumahmungil pun tetap mempunyai seabrek fungsi. Living in the box, mungkin itulah ungkapan yang cocok.

Sebenarnya, masih sulit untuk mendefinisikan rumah mungil karenamenurut Prima Haris, konsultan dan pengasuh rubrik konsultasi desaininterior di tabloid Rumah, rumah seluas 135 meter persegi pun masihbisa disebut mungil. Belum lagi jika kita menilik kemampuan orang kayadan miskin dalam membangun rumah.

Akan tetapi, yang jelas dalam rumah mungil hanya terdapat fungsipokok rumah. Kini rumah mungil tidak selalu berarti kaku, sumpek, dansempit. Sebenarnya, rumah mungil dapat ditata dengan interior yangtepat agar nyaman dan terkesan luas.

Menarik untuk dikaji, tips 3 in 1 + Prima Haris, dalam acara TemuPembaca Tabloid Rumah, di Bandung, Rabu (15/6). Temu pembaca inimerupakan salah satu rangkaian acara Kompas- Gramedia Fair bersama BNITapenas yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) InstitutTeknologi Bandung (ITB), 14-19 Juni 2005.

PERTAMA, jadikanlah rumah mungil sebagaicerminan gaya hidup kita. “Interior ialah jiwa yang punya rumah,” tuturHaris. Maksudnya, sesuaikanlah desain interior rumah kita dengankarakter dan gaya hidup kita sehari-hari.

Orang yang suka membawa pekerjaan ke rumah bisa saja menata ruangkerjanya sedikit berbeda dengan desain ruangan lainnya. Ini dilakukanagar mereka dapat bekerja senyaman mungkin.

Lain “si tukang kerja”, lain pula “si tukang mandi”. Misalnya,seorang seniman yang senang berlama-lama di kamar mandi karena kerapmendapat inspirasi di sana bisa menambahkan aksesori dan fungsitambahan pada ruangan. Aksesori tambahan itu akhirnya bisa berfungsisebagai sarana untuk bekerja.

Kedua, ruangan yang sempit dapat memberikankesan yang luas jika kita mempertimbangkan pilihan warna cat,keberadaan cermin dan kaca, serta minimnya aksesori.

Haris, yang juga alumnus Teknik Arsitektur ITB ini, menjelaskan,warna senada atau yang masih satu turunan sebaiknya menjadi pilihankita ketika mengecat rumah. Jadi jangan memilih warna-warna yang gelapkarena akan memberikan kesan sempit pada ruangan. Pilihlah warna yangdapat memberikan kesan ringan dan teduh.

Namun, patut diingat, pilihan warna cat ini pun harus disesuaikandengan fungsi ruangan. Warna yang lembut dan ringan, seperti biru danungu, kurang cocok untuk ruangan belajar anak karena akan memberikankesan teduh. Akibatnya, anak akan kurang bergairah belajar. Merah danoranye, yang bersifat ceria serta riang, adalah contoh warna yangjustru cocok untuk kondisi belajar anak.

FAKTOR pencahayaan dari lampu pun tidak sepatutnya dilupakan.Cahaya lampu, menurut Haris, hanya ada dua, yaitu kuning dan putih.Cahaya putih dari lampu neon, misalnya, lebih memberikan kesan dingin,formal, dan tidak alami. Adapun warna kuning berkesan lebih hangat,segar, alami, dan romantis.

Sementara itu, kaca yang membatasi bagian dalam rumah dengan ruangandi luarnya pun memengaruhi kesan pandangan yang ditimbulkan. “Adanyakaca membuat kita bisa melihat keluar. Hal ini, secara psikologis,memberikan kesan bahwa ruangan itu luas,” tutur Haris.

Selain itu, adanya kaca membuat sinar matahari bisa masuk ke dalamruangan. Nuansa ruangan dapat mengalir ringan jika sinar mataharileluasa masuk dan pandangan mata lepas ke halaman.

Unsur vertikal terlalu banyak dan blocking untuk memisahkansatu ruangan dengan yang lainnya juga dapat memberikan kesan kaku dansempit. Sebaiknya hindari unsur vertikal yang terlalu banyak ini. Bufetkecil atau bahkan sofa bisa dijadikan media penyekat ruangan.

Jika kita memiliki rumah yang mungil, sebaiknya pula memilihmebel yang kalem dan simpel. Mebel yang dipilih pun dianjurkan memilikiwarna yang mendekati warna dinding sehingga tidak terkesan berat dansempit.

Warna gelap biasanya cenderung terkesan mengarah mendekati kitasehingga ruangan tampak lebih sempit. Unsur- unsur alam, sepertipepohonan dan tanaman bunga, dapat pula ditambahkan untuk memberikankesegaran pada ruangan.

PEMANFAATAN ruang-ruang kosong yang ada di rumah untuk menaruhbarang-barang merupakan faktor ketiga dari konsep 3 in 1. Misalnya,ruang di bawah wastafel yang biasa kosong dapat dimanfaatkan untukmenyimpan beberapa jenis barang.

Kemudian ruang kosong sekitar satu meter di bawah plafon pun dapatlebih difungsikan. Berburu ruang sisa, itulah istilah Haris. “Denganbegitu, satu tempat bisa saja multifungsi,” ujar pria yang pernahmenjadi Direktur Indonesian Interior and Architectural Space ResourceCenter ini.

“Dinding menganggur, no way,” kata Haris. Justru di dindinglahterdapat kekayaan kita. Selain ketiga hal di atas, dinding rumah pundapat dimanfaatkan. Ia mengatakan, kita bisa saja membuat rak buku didinding rumah. Namun, warna rak pun jangan terlalu kontras dengan warnadinding yang ada.

Bagi yang ingin memasang wallpaper, pakailahyang bermotif dan berwarna ringan. Corak lekukan daun yang lebar-lebar,misalnya, justru bisa menyita pandangan. Warna polos dengan garistipis-tipis dan kotak kecil-kecil malah dapat mengistirahatkanpandangan dan pikiran kita sehingga menjadi rileks.

Jarak lantai dan plafon pun tak luput jadi perhatian Haris. Jarakyang sempit di antara keduanya seolah mempersempit ruang gerak kita.Luasnya jarak antara lantai dan plafon justru membuat kita lebihleluasa bergerak dan sirkulasi udara pun lancar.

Ditanya mengenai estetika penataan rumah mungil, Haris menjawab,”Bagi saya saja yang seorang desainer interior, yang penting nyaman.Estetika nomor dua.” Dalam perkembangan selanjutnya, tentunya rumahmungil pun akan berubah karena bertambahnya beberapa hal.

Bertambahnya anggota dan aktivitas keluarga, kebutuhan ruang, danpeningkatan kualitas hidup adalah beberapa di antaranya. Akan tetapi,yang perlu diingat dalam merenovasi adalah mengenali rumah kitaterlebih dulu, menghitung kebutuhan ruang, dan menentukan skalaprioritas. (D11)

Kompas Online


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Tips Renovasi Rumah

Tips Renovasi Rumah

Amelia Ayu Kinanti - detikHot

Mau tahu tips merenovasi rumah? Ini dia:

1. Tentukan budget. Merenovasi rumah tidak perlu terlalu mahal, yang penting sesuai kebutuhan dan tepat guna.

2. Buat daftar hal-hal yang harus direnovasi sesuai urutan prioritas. Misalnya, 1.Atap yang bocor, 2. Cat yang terkelupas, 3. dan lain-lain.

3. Pilih jasa kontraktor yang sesuai dengan kebutuhan serta budget Anda.

4. Sebisa mungkin manfaatkan barang-barang atau peralatan di rumah yang masih bisa dipakai. Misalnya water closet atau washtafel yang masih bisa dipakai, tidak perlu diganti. Biasanya peralatan kamar mandilah yang paling banyak menghabiskan biaya.

5. Jika ingin mendesain ulang rumah, sebisa mungkin sesuaikan dengan perabot dan furniture yang Anda miliki, sehingga tidak perlu ada biaya tambahan untuk membeli perabotan dan furniture baru.

Selamat Mencoba !(eny/eny)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Senin, 17 Desember 2007

PLUS MINUS GAYA MINIMALIS

PLUS MINUS GAYA MINIMALIS

Tren rumah bergaya minimalis masih bertahan hingga kini. Cirinya, bentuk rumah maupun perabotnya serba sederhana. Meskipun terlihat simpel, bukan berarti rumah minimalis tak memiliki kelemahan. Apa saja kelebihan dan kelemahan rumah jenis ini?

KLIK - Detail Rumah bergaya minimalis banyak jadi pilihan kaum urban. Dari namanya, rumah minimalis merupakan rumah dengan tampak, struktur, dan tata ruang yang sederhana (minimal). "Bentuknya yang simpel dan straight forward membuatnya cocok dengan gaya hidup yang urban, dinamis, serba cepat dan praktis. Untuk aplikasi rumah minimalis, tidak terbatas pada ukuran atau luas tanah," tutur Yuni Jie, pengarang buku Modern Interior Design.

Rumah minimalis dapat dikenali melalui bentuknya yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan rumah jenis klasik, mediteranian, atau kolonial. "Gaya hidup pemiliknya pun membeli benda-benda yang memang sesuai kebutuhan saja. Rumah jenis minimalis akan lebih terlihat garis-garis desainnya jika barang tertata rapi," lanjut desainer furnitur dan interior yang karyanya kerap dipamerkan di berbagai ajang bergengsi internasional ini.

Barang-barang yang lainnya dapat disimpan di dalam lemari dengan pintu tertutup sehingga tidak terekspos dan tidak mengganggu pandangan. Sementara untuk pemilihan warna, "Dapat dipilih warna-warna dengan nuansa yang lebih netral seperti putih, abu-abu, atau cokelat muda. Dengan warna seperti ini ruangan pun akan terlihat lebih bersih, lapang dan terbuka."

KLIK - DetailHarus Presisi
Kelebihan rumah minimalis, menurut peraih predikat Honor of Excellence dari Pratt Institute, New York, ini bentuk desain yang sederhana membuat gaya minimalis tidak lekang oleh waktu. "Perawatannya juga tidak terlalu merepotkan. Yang perlu disesuaikan adalah gaya hidup si penghuni. Gaya hidup yang rapi dan bersih sangat diperlukan bagi penghuni rumah dengan jenis ini. Biar bagaimana pun hunian seseorang merupakan cermin daripada kepribadiannya."

Hanya saja, ada kelemahannnya yaitu dari segi pembuatannya. Karena sifatnya yang sangat presisi, rumah minimalis harus dibangun dengan amat teliti. "Detail sambungan pada furniture atau acian dinding yang smooth (halus) sangat diperlukan untuk mewujudkan hasil yang sempurna. Otomatis biayanya pun dapat berakhir dengan angka yang lebih tinggi dibandingkan membangun rumah dengan gaya lain yang tidak memerlukan kecermatan tinggi."

Begitu juga dengan atap rumah. Secara struktural, rumah minimalis harus memiliki atap dengan sudut kemiringan tertentu. "Walaupun atap rumah berbentuk kotak, pasti akan sedikit miring guna mencegah air yang menampung karena hujan." Sama dengan rumah jenis apapun, pada permukaan yang rendah di rumah minimalis juga harus ada pipa air /gutter supaya air kemudian dapat mengalir turun ke bawah.

Fungsi Furnitur
Senada dengan Yuni, arsitek Nadia Erithiany dari Banco menandaskan, ciri paling menonjol rumah minimalis semuanya serba simpel, garis tegas, persegi, kotak-kotak, dan serba siku. "Jika saja ada bentuk lengkungnya, bukan minimalis lagi," jelas Nadia. Bahkan minimalis murni lantai rumah tidak difinishing. "Enggak pakai keramik cuma diplester atau dikasih tekstur batu. Begitu juga dengan pergola, tidak lengkung, tapi lurus, garisnya tegas, dan simpel."

Menurut Nadia, yang sering membuat furnitur minimalis ini, dari segi pembuatan furnitur tak banyak kendala. "Beda, kan, dengan gaya klasik ada ukir-ukiran. Perawatan dan harganya pun tak murah. Sementara gaya minimalis modelnya simple, sehingga gampang membuatnya. Bahkan tiap funitur ada fungsinya," papar Nadia.

KLIK - Detail Misalnya saja, tempat tidur Banco yang ukurannya cukup besar ini. "Meski besar tapi diisi dengan kasur dengan ukuran lebih kecil dan diletakkan di tengah. Maksudnya tak lain agar di kanan kiri tersisa tempat untuk duduk. Sementara di sisi lain ada laci untuk menyimpan sprei atau handuk," tutur Nadia yang setuju jika tren minimalis akan bertahan lama. "Karena kebutuhan orang, kan, tak ingin yang berat-berat, tapi simpel dan rapi."

Tambahkan Tanaman
1. Rumah minimalis berasal dari Eropa yang diadopsi masuk ke Indonesia. Di sana lebih berbentuk kubus, tanpa menggunakan atap, simpel, praktis tanpa sekat.

2. John Pawson dianggap sebagai guru "minimalisme" yang menghadirkan desain rumah minim garis, hening, dan indah.

3. Tahun 90-an gaya minimalis mulai muncul. Sebelumnya dikenal dengan gaya mediterania dengan rumah warna krem, peach, dan biru laut. Dindingnya dilumuri pasir dipadu dengan batu alam.

4. Warna-warna cerah (merah, oranye, kuning) pada beberapa bidang ekspos akan memperkuat aksen rumah minimalis. "Warna tersebut menjadi titik pusat perhatian," jelas Nadia.

5. Taman menambah kelembutan terhadap kekakuan bentuk bangunan minimalis. Misalnya, tanaman papirus, pepohonan yang rindang, atau halaman berumput.

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Rumah dengan Gaya Minimalis

Rumah dengan Gaya Minimalis

Saat ini kata ‘minimalis’ begitu sering kita dengar, terutama jika berhubungan dengan dunia arsitektur dan rumah. Artikel ini mengajak Anda untuk mengetahui apakah minimalis itu sesungguhnya, dan bagaimana mengaplikasikan minimalisme dalam gaya arsitektur rumah Anda.

Gaya minimalis pada intinya merupakan suatu jawaban atas keadaan yang dicetuskan oleh orang-orang yang menganut paham minimalisme sebagai protes terhadap keadaan masyarakat yang tidak menghargai sumber daya alam dengan mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam untuk hal-hal yang tidak perlu dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan minimalisme ini merupakan gerakan 'back to basic' atau kembali kepada kesederhanaan, konon gerakan ini timbul di Amerika yang merupakan suatu hal yang dapat dianggap positif dari suatu gerakan zaman modern.

Minimalis kemudian berkembang menjadi sebuah pola pikir, bekerja, dan suatu cara hidup. Dalam dunia arsitektur modern hal ini dilihat sebagai cara pandang baru dalam desain sebagai refleksi cara hidup masyarakat urban yang serba praktis, ringan, efisien, dan penuh kesederhanaan.

Rumah minimalis mengedepankan aspek fungsional. Di rumah minimalis,tiap ruang bisadipastikan memilikifungsi yang jelas.Ruang yang ada di dalamnya betul-betul diperlukan oleh penghuni.


Rumah minimalis jelas akan terasa nyaman untuk ditinggali bagi masyarakat urban yang serba praktis, fungsional, ringan, hemat, dan efisien, karena minimalis adalah pengejawantahan gaya hidup mereka, sesuai dengan kebutuhan fungsi mereka. Simbol gaya hidup metropolis.

Karena itu rumah bergaya minimalis banyak jadi pilihan kaum urban. Dari namanya, rumah minimalis merupakan rumah dengan tampak, struktur, dan tata ruang yang sederhana (minimal). Bentuknya yang simpel dan straight forward membuatnya cocok dengan gaya hidup masyarakat urban. Untuk aplikasi rumah minimalis, tidak terbatas pada ukuran atau luas tanah.

Gaya minimalis di Indonesia sebenarnya telah mengalami perkembangan yang cukup berbeda daripada yang telah dipahami secara internasional sebagai ‘minimalisme’. Gaya yang sesungguhnya pada minimalisme memiliki prinsip 'less is more' yang menggebu-gebu. Prinsip arsitektur modern minimalis ini sebenarnya mengikuti prinsip arsitektur 'form follow function atau bentuk mengikuti fungsi. Karena itu bentuk-bentuk yang tidak perlu dihilangkan.

Tren minimalis yang sekarang hadir di Indonesia bukan merupakan minimalis murni, namun sudah digabungkan dengan berbagai gaya lainnya, seperti modern, mediterranean, atau klasik. Secara umum, gaya minimalis di Indonesia adalah minimalis tropis yang dicirikan dengan adanya teras. Minimalis yang murni tidak mengenal adanya teras.

Di Indonesia, kita mendapati ornamentasi atau hiasan-hiasan masih banyak digunakan, dan minimalisme telah menjadi sebuah gaya arsitektur yang berdiri sendiri, kadang-kadang 'gaya minimalis' dianggap sebagai istilah pengganti untuk 'gaya arsitektur modern'. Hal ini bisa dipahami, karena kebudayaan Indonesia yang sarat dengan ornamentasi atau hiasan.


Arsitektur Minimalis
Minimum is ultimate ornament. Minimum menjadi tujuan sekaligus ornamen itu sendiri yang sederhana dan murni (simple and pure). Garis-garis lurus, bidang-bidang datar yang mulus, terkadang kasar, dan pertemuan bidang yang serba siku tegak lurus. Blocking massa, material, pencahayaan, pengulangan, sirkulasi ringkas, optimalisasi multifungsi ruang dan berurut.

Rumah minimalis pun hadir dengan karakter lebih jelas (bentuk dan ruang geometris, sederhana), lebih baik (kokoh), dan lebih kuat dengan ruang- ruang yang kosong (sedikit ornamen dan perabotan). Prinsipnya semakin sederhana, maka kualitas desain, ruang yang ada, dan penyelesaian bidang struktur harus semakin lebih baik.

Rumah minimalis menekankan bentuk desain yang lugas, polos, sederhana, tidak rumit, kompak, dan efisiensi ruang.

Bentuk, ukuran, dan tata letak dari rumah bergaya minimalis, seperti untuk ruang tidur, ruang tamu, kamar mandi, atau dapur, secara umum relatif sama dengan rumah bergaya lain seperti modern, mediterranean, atau klasik.

Ciri paling menonjol rumah minimalis semuanya serba simpel, garis tegas, persegi, kotak-kotak, dan serba siku. Bahkan minimalis murni lantai rumah tidak difinishing. Tidak menggunakan keramik, hanya diplester atau diberi tekstur batu. Begitu juga dengan pergola, tidak lengkung, tapi lurus, garisnya tegas, dan simpel.

Inti dari minimalisme itu sebenarnya adalah mendapatkan 'hasil maksimal dari sesuatu yang minimal. Pada akhirnya nilai keindahan rumah minimalis tidak lagi mengandalkan ornamen dan obyek artifisial, tetapi lebih bermakna kepada sebuah kejujuran bentuk, fungsi, dan penjiwaan ruang yang diciptakan. Maka tak heran jika kemudian rumah minimalis menjadi pilihan masyarakat urban yang merindukan kejujuran, kesederhanaan, dan kepolosannya. rumah-ku Budi


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi