Jumat, 24 Agustus 2007

Mewujudkan Interior Rumah Gayaku

Mewujudkan Interior Rumah Gayaku

seri interior rumah

MEWUJUDKAN penataan interior rumah idaman itu bisa dikatakan gampang-gampang susah, karena banyak faktor yang berkaitan. Anda mesti membuat rencana yang saksama, teliti, dan punya kesabaran untuk merinci satu demi satu mebel dan pernak-pernik lain yang akan Anda letakkan di ruang ini atau ruang yang itu. Setelah semua rencana pasti dan terasa memuaskan, Anda mesti rajin mendatangi satu demi satu toko mebel untuk mendapatkan barang seperti yang Anda inginkan.

NAMUN, belakangan ini mencari mebel yang kira-kira sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidaklah sesulit seperti sekitar 15 tahun yang lalu. Sekarang ini begitu banyak pilihan toko mebel dengan berbagai gaya masing-masing. Kalau dulu, untuk mendapatkan kain penutup kursi yang bagus seperti dalam foto majalah interior asing misalnya, Anda tak mungkin mendapatkannya di Jakarta, sekarang hal itu menjadi mungkin.

Anda tinggal mencari toko mebel yang kira-kira sesuai dengan selera dan gaya Anda, entah itu produk impor atau produk lokal, dalam hitungan hari barang yang diinginkan sudah pindah ke rumah Anda. Meski mebel buatan Indonesia sudah diekspor ke berbagai negara, namun Anda malah menginginkan produk impor, Anda juga bisa menempuh "jalan mudah", buka Internet dan carilah barang yang Anda inginkan lewat monitor komputer.

Bahkan, untuk masa sekarang ini, Anda yang tak mau repot dan hanya mempunyai sedikit waktu luang untuk melihat-lihat mebel, bisa mendatangi toko mebel yang sudah menyediakan semua barang yang Anda perlukan. Sepanjang selera dan gaya Anda bisa “masuk" ke gaya mebel yang ditawarkan, maka Anda pun tak perlu repot lagi. Biasanya toko mebel seperti ini–sering kali disebut sebagai one stop shopping –terdapat di mal-mal, pusat furnitur, atau di kawasan toko-toko mebel.

Toko-toko mebel semacam itu ada yang mempunyai ruang pamer luas, namun ada pula yang hanya memajang sebagian dari barangnya saja. Barang selebihnya, mereka tampilkan lewat foto-foto, contoh materialnya, maupun warna-warna yang mereka miliki. Toko yang luas biasanya menjual semua perabotan rumah, mulai dari teras, ruang tamu, kamar tidur, ruang kerja, sampai ruang keluarga dan dapur.

Gaya yang ditampilkan masing-masing toko juga bisa berbeda-beda, ada yang memilih gaya Amerika, gaya mebel Eropa dan sebagainya. Oleh karena toko semacam ini biasanya sangat luas, maka Anda bisa memuaskan rasa ingin tahu dengan berkeliling ke seluruh ruangan yang ditata sesuai dengan jenis mebel di setiap ruang dalam rumah.

Di sini, Anda bisa mendapatkan mebel plus tatanannya sekaligus. Misalnya, untuk ruang makan, mereka memajang meja dan kursi makan, bufet untuk menyimpan piring dan sendok-garpu, bahkan bisa sampai ke penataan meja makannya sekalian. Toko mebel seperti ini biasanya juga menyediakan jasa konsultasi tanpa biaya. Berbelanja mebel dengan cara ini tak perlu waktu lama, Anda pun relatif tidak repot.

ADA pula toko yang menjual perabotan dan aksesori rumah tanpa menghadirkan gaya interior tertentu. Biasanya di toko semacam ini, Anda bisa mendapatkan berbagai macam jenis barang dan gaya mebel. Kalau Anda hanya ingin sedikit perubahan dalam tatanan interior rumah, maka toko seperti ini bisa jadi pilihan.

Namun, kalau Anda tipe orang yang ingin mempunyai gaya interior lebih "khas", pilihlah toko mebel yang menjual barangnya dengan konsep tata ruang total. Biasanya toko mebel semacam ini hanya memiliki satu atau dua gaya penataan yang tak terlalu jauh satu sama lainnya. Misalnya, mebel gaya minimalis dipadu dengan gaya modern, atau gaya etnik dipadu dengan gaya primitif.

Ciri toko mebel dengan konsep penataan interior total ini antara lain bisa dilihat dari penataan toko yang artistik dan terasa lebih personal. Mebel dipilih dan ditempatkan dengan "hati-hati", karena pemilik atau desainer interiornya ingin menciptakan keharmonisan. Permainan gradasi warnanya, pemilihan karpet, bantal, tirai, perpaduan warna kain antara sofa dan kap lampunya, sampai penutup tempat tidur sedemikian rupa, hingga mencerminkan gaya pribadinya, gaya hidupnya.

Anda juga bisa memakai jasa desainer interior untuk menata rumah Anda. Tak semua desainer interior menetapkan biaya jasa yang mahal, dan tak ada keharusan pula bagi Anda untuk memakai jasa mereka bila kemudian merasa kurang cocok. Namun, bila gaya penataan interior, waktu pengerjaan, anggaran, dan biaya bisa disepakati, maka seorang desainer interior yang baik akan peka dengan keinginan Anda, sekaligus bisa menuangkan ide-idenya dalam merancang penataan interior rumah Anda. Inilah yang disebut kolaborasi interior. Artinya, kalau Anda pulang ke rumah, memang itulah "rumah" Anda, bukan "rumah" si desainer interiornya.

Pengerjaan interior rumah dengan menggunakan jasa desainer interior biasanya memerlukan waktu yang relatif lebih lama, namun hasilnya Anda bisa mendapatkan tatanan interior yang sesuai dengan kepribadian Anda dan keluarga. Desainer interior-lah yang bertanggung jawab untuk mencari atau membuat mebel sesuai desain yang telah disepakati. Dia juga mesti memikirkan segi kenyamanan dan ketahanan mebelnya, sampai pencahayaan, vas bunga atau lukisan yang cocok untuk tiap ruangan.

Apa pun cara yang Anda pilih untuk mewujudkan tata interior rumah Anda, ada satu hal yang mesti disadari. Jangan terkecoh dengan foto penataan interior di majalah atau tabloid. Penataan ruang pada media itu tampak bagus karena banyak cara yang digunakan untuk mendapatkan efek tersebut. Makanya, jangan berkecil hati kalau hasil tata ruang Anda tak seperti foto di majalah, yang penting Anda puas ….

Roland Adam desainer interior
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Estetika yang Mengikuti Fungsi

Interior Ruang Ruangan

Estetika yang Mengikuti Fungsi

Kemajuan teknologi pada alat-alat audio-video mendorong orang untuk memilikinya. Keinginan untuk melihat kualitas gambar yang prima dan suara jernih, tanpa harus meninggalkan rumah, membuat orang ingin memiliki ruang audio-video sendiri. Kebutuhan tersebut bagi sebagian orang sama pentingnya dengan ruang tidur, ruang tamu, dan dapur pada setiap rumah.

Apalagi alat-alat audio-video relatif mudah didapatkan di pasaran, terutama di kota-kota besar. Harganya pun amat bervariasi, hingga orang bisa menyesuaikan diri dengan dana yang tersedia di kantong. Masalahnya, tak semua orang bisa mendesain interior ruang audio-video sedemikian rupa sehingga kemampuan alat audio-video yang dimilikinya bisa berfungsi optimal.

Di sini peran desainer interior yang memahami kemajuan teknologi dan pengoperasian alat-alat audio-video tersebut diperlukan. Meski klien atau pemilik rumah memahami perkembangan teknologi audio-video, tetapi tanpa peran desainer interior, bisa jadi ruang audio-video yang dibuat tak bisa berfungsi maksimal.

”Ada beberapa klien saya yang tahunya, ya, menonton gambar bagus, dengan suara jernih. Alatnya apa dan bagaimana mengoperasikannya, dia pasrah. Dia minta desainer interiorlah yang membuat semua alat audio-video itu menjadi mudah pengoperasiannya,” papar Johan Khosasih, desainer interior.

Oleh karena itulah, meski pengerjaan atau kontrak pembuatan ruang audio-video telah selesai, biasanya hubungan antara si pemilik dan desainer interiornya tetap berjalan. ”Kalau ada apa-apa, seperti suara yang dirasakan tak stereo atau gambar tak sepenuh layar, biasanya klien langsung menelepon kami, desainer interiornya,” cerita Johan.

Bagi desainer interior untuk ruang audio-video, pengetahuan akan fungsi, bentuk, dan desain alat-alat audio-video sangat membantu mewujudkan penataan ruangan. Menurut Andreas Laratsemi, desainer interior, alat-alat audio-video tersebut harus menjadi kesatuan dengan interior ruangan, apa pun tema dan gaya yang dipilih pemilik rumah.

”Bahkan, kalau perlu, justru equipments-nya yang diekspos karena desain dan bentuk equipments audio-video sekarang ini banyak yang bagus. Kalau interior ruang bergaya high-tech atau modern, desainer enggak perlu repot memikirkan bagaimana menyembunyikan komponen tersebut dalam ruangan,” tutur Andreas.

Peredam suara

Sekitar 90 persen dari tahap penyelesaian ruang audio-video, menurut Andreas, umumnya menggunakan bahan tekstil. Bahan ini dipilih karena memiliki tekstur, warna, dan corak yang beragam sehingga bisa disesuaikan dengan tema, gaya, dan selera interior ruangan.

Interior audio-video tak beda dengan ruang lain pada umumnya. Di sini ada unsur peletakan perabot, tema, gaya, kenyamanan, dan elemen estetik. Hanya saja, pada ruang audio-video ditambahkan penataan akustik hingga faktor kenyamanan terhadap mata dan telinga pun harus diperhitungkan.

Menurut Andreas, agar ruang audio-video berfungsi maksimal, maka perhitungan besaran ruang, kemiringan bidang, bentuk ruang, dan penggunaan material harus menjadi pertimbangan utama. Fungsi perabot dan alat-alat audio-video harus maksimal, sedangkan gaya dan estetika bisa disesuaikan dengan selera pemilik rumah.

Untuk penataan akustik yang baik, memang diperlukan bahan-bahan dengan peredam suara yang tinggi, tetapi pantulan terhadap suara pun tetap dibutuhkan demi menciptakan ambiens (ambiance) agar tak terjadi dead-room.

”Pada ruang audio-video diperlukan pula penyebaran atau difusi suara yang cukup dan merata. Caranya, antara lain, dengan menggunakan permukaan atau tekstur bahan seperti relief batu, ukiran kayu, bahkan susunan buku yang sengaja dibuat tidak beraturan,” ungkapnya.

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan diffusor, perangkat akustik untuk menyebarkan refleksi suara. Dengan diffusor, akan lebih akurat penghitungan pengaruh panjang gelombang terhadap frekuensi yang ditimbulkan. Dengan demikian, tidak terjadi penumpukan suara pada frekuensi tertentu.

”Penumpukan suara dapat mengakibatkan feedback pada high frekuensi atau boomy pada low frekuensi,” ucap Andreas menambahkan.

Warna netral dan modern

Tak ada patokan warna atau gaya interior yang sebaiknya diterapkan pada ruang audio-video. Orang bisa memilih gaya maupun warna apa pun untuk ruangan ini. Namun, dari pengalamannya, Johan menuturkan, orang biasanya memilih gaya modern untuk interior audio-video.

”Pendekatan gaya modern memungkinkan furnitur langsung menyatu dengan desain alat-alat audio-videonya. Sementara, kalau kita memilih gaya klasik, misalnya, alat-alat audio-video yang umumnya berdesain modern itu mesti ditutup dengan perabot lain. Ini supaya interior ruang tersebut tetap terjaga sisi estetiknya,” ujarnya.

Sebagai ”penutup” bagi alat-alat audio-video bisa digunakan kain, rak, atau lemari yang desainnya menyesuaikan dengan gaya interior pada ruangan tersebut. Hanya saja, untuk merawat alat-alat audio-video yang disembunyikan ini, perlu kerja ekstra.

”Kalau alat-alat audio-video itu menjadi bagian dari elemen interior ruang, kan langsung kelihatan mata. Jadi lebih mudah perawatannya. Tetapi, kalau alat-alat itu disembunyikan, artinya orang harus membersihkan alat-alat itu dan juga elemen atau perabot yang digunakan untuk menyembunyikan alat audio-video tersebut,” tutur Andreas menambahkan.

Salah satu syarat dasar agar ruang audio-video tidak mengganggu ruang lain adalah berdinding bata atau beton, dengan langit-langit berupa eternit atau beton. Sementara untuk lantainya bisa dipilih karpet, permadani, atau kayu.

”Kalau untuk ruang video, sebaiknya gunakan karpet untuk lantainya. Karpet dipilih agar suasana bioskop tetap hadir di sini. Adapun lantai kayu tidak bisa menghadirkan suasana itu,” ujar Johan.

Tentang pemilihan warna ruang audio-video, biasanya orang memilih warna-warna netral, seperti putih, abu-abu, krem, atau coklat. Kalaupun digunakan warna ”berani” seperti merah atau hijau, biasanya hanya sebagai aksen ruangan.

Pencahayaan pada ruang audio-video umumnya dibuat untuk menciptakan suasana yang ingin ditampilkan. Oleh karena itulah, demikian Andreas, jenis pencahayaan yang dipilih biasanya berupa cahaya tak langsung (spot maupun indirect lighting), bukan direct atau general lighting.

Meski terkesan rumit, keberadaan ruang audio-video bagi sebagian orang bisa merupakan gengsi sekaligus pemenuhan hobi. Sama seperti kepemilikan mobil terbaru merek tertentu atau mebel produk dunia yang dianggap bisa menunjukkan kelas sosial-ekonomi pemiliknya.
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Interior Minimalis dan Fungsional

Minimalis dan Fungsional

Pemilihan interior rumah tinggal, tak dimungkiri menjadi bagian keseharian sekaligus cermin gaya hidup masa kini. Semakin spesifik pilihan tersebut, semakin tergambar jelas bagaimana taste ataupun karakter sang pemilik rumah. Sejalan dengan gaya hidup masyarakat yang kian dinamis, tren gaya interior hunian saat ini menurut Branch Manager Ligna Furniture Perwakilan Jawa Barat, Rubi Setiawan, lebih mengutamakan pada fungsi.

Sedangkan untuk tren model lebih mengarah pada gaya minimalis modern. Dengan warna-warna yang cenderung gelap, seperti hitam cokelat, hijau batu, dll.

Tren fungsi dapat dilihat dari kekuatan konstruksi, manfaat, maupun kesesuaian interior tersebut pada saat menyatu dengan sebuah rumah. Kekuatan konstruksi ini, baru akan terjamin bila bahan dasar yang digunakan berkualitas. Selain itu, desain konstruksinya pun sesuai dan tetap menekankan pada gaya yang simpel, praktis, dan bila memungkinkan harus multi- guna.
Sejalan dengan gaya hidup masyarakat yang kian dinamis, tren gaya interior hunian saat ini lebih mengutamakan pada fungsi. Seperti tren modern minimalis dapat terbaca, bila furnitur yang dipilih pas dengan ruang penempatannya dengan tidak memakan ataupun menyisakan ruangan yang terlalu luas. Sedangkan untuk corak, cenderung polos.* DUDI SUGANDI/”PR”

Semua ini berlaku sama untuk semua peralatan, mulai dari sofa, bedset, meja makan, set kantor, sampai meja belajar. Seperti salah satu produk sofa yang dibuatnya. Selain dapat berfungsi sebagai tempat duduk, juga berfungsi untuk menyimpan majalah dan koran. Desain ini merupakan pengembangan dari ide penempatan koran atau majalah yang tidak sekadar di bawah meja. Selain memudahkan, juga simpel.

Desain-desain seperti ini, kata Rubi, dibuat untuk mengikuti kecenderungan rumah-rumah mungil perkotaan yang tidak memiliki ruang cukup luas. Selain itu, dapat juga dipergunakan di apartemen-apartemen yang memang memilih gaya modern minimalis.

Penciptaan serupa dilakukan pada set meja makan yang ramping, tempat tidur anak, maupun wall unit dan set ranjang yang kian simpel. Meski demikian, tetap dirancang pula sofa-sofa besar dan mewah untuk pasar yang memang memerlukannya. "Sebab bagaimanapun pasar itu beragam, walau trennya sangat modern minimalis," ujar Rubi.

Begitu pula untuk desain peralatan kantor, meja, lemari, ataupun sofa, disesuaikan dengan fungsi yang bergaya modern minimalis. Hal ini sangat mendukung bagi pencitraan kantor sebagai tempat yang memang harus sangat fungsional. Meski demikian, desain-desain ini kaku, tetapi simpel dan praktis.

Desain yang lebih modern diterapkan pada peralatan rumah seperti sofa. Sesuai dengan fungsinya, sofa-sofa keluaran terbaru dapat diubah bentuk. Selain sofa ini dapat berfungsi sebagai tempat duduk, dapat difungsikan pula sebagai tempat tidur.

Untuk semua tren fungsi ini, Rubi hanya menggunakan bahan dasar kayu bersertifikasi internasional. Dengan kualitas kayu yang siap pakai dari Bangladesh ataupun Burma dan tidak boleh ilegal. Kalaupun menggunakan jenis bubukan kayu, dimensinya lebih tebal dengan pelapisan plastik yang tidak rentan tumpahan noda.

Yang dilakukan Branch Manager Olympic Furniture, Rahmulyo, lain lagi. Untuk tren fungsi ini, seluruh rancangan mebelnya dilapisi foil. Fungsi foil tersebut untuk melindungi produk dari rayap atau gangguan lainnya. Pada sisi tertentu, produknya dihiasi desain simpel dengan membiarkan bentuk alur/garis berjajar secara vertikal dan horizontal tetap mencuat dipadu variasi warna gelap dan terang seperti cokelat tua (dark oak) dan cokelat terang (natural oak).

"Meskipun terkesan elegan, desain minimalis ini tak diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Karena fungsinya sebagai furniture, masyarakat mana pun dengan tipe rumah apa pun layak menggunakan tren tersebut. Yang pasti, ciri-ciri dari tren minimalis mencakup tiga hal, warna natural, bentuk simpel dan ukuran tak terlalu besar," jelas Rahmulyo.

Selain dari segi model, gaya modern minimalis ini, mencuat juga dalam cara perakitan. Dengan sistem knockdown, konsumen dapat dengan mudah membawa mebel kesayangannya ke mana pun pergi. Untuk satu set tempat tidur saja, dapat dilipat dan dibawa dalam satu tentengan. Sehingga kalaupun konsumen tersebut pindah rumah, tidak memerlukan biaya ekspedisi yang terlalu mahal. Khusus untuk setting (pemasangan) dapat dilakukan oleh para teknisinya. "Ini merupakan bagian dari after sales service," ujar Rubi.

Warna netral

Untuk tren warna, gaya interior modern minimalis, dapat terbaca dari warna-warnanya yang netral seperti hitam, cokelat, hijau tanah, ungu gelap, ataupun peach yang sedikit terang dan lembut. Untuk sofa-sofa keluarga berukuran besar dan mewah ini, banyak dipilih warna-warna lembut, seperti peach, biru langit, ataupun putih pucat.

Hal ini selain memberi kesan berkelas, hommy, dan memberi rasa nyaman penuh kehangatan. Itulah sebabnya, sofa-sofa besar ini, kata Rubi, umumnya ditempatkan di ruang keluarga yang lebih luas daripada ruang tamu.

Secara keseluruhan, kata Rubi, tren modern minimalis dapat terbaca, bila furnitur yang dipilih pas dengan ruang penempatannya. Tidak memakan ataupun menyisakan ruangan yang terlalu luas. Sedangkan untuk corak, cenderung polos. Kalaupun ada motif, terbatas pada motif stripe (salur/garis) ataupun abstrak modern yang sederhana.

Motif tersebut, mengingatkan kita pada desain-desain yang terinspirasi dari keanekaragaman suku bangsa Indonesia namun tetap kompak dan saling mendukung satu sama lain.

Pergeseran tren gaya interior terjadi hampir setiap tahun. Untuk tahun 2005 saja, tren gaya interior masih menguat pada model sofa-sofa bungkus kain berukuran besar. Tetapi pada tahun 2006, justru sebaliknya, tren gaya interior lebih mengarah pada gaya desain interior yang cenderung modern minimalis. Dengan fokus pada fungsi dan kekuatan.

"Kalau sudah begini, harga menjadi diabaikan. Sebab konsumen lebih mengejar desain dan mengutamakan kualitas," imbuh Rubi
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Dari Gaya Klasik sampai Modern Minimalis

Dari Gaya Klasik sampai Modern Minimalis
Interior Minimalis

PASAR untuk sofa bisa dikatakan tak pernah ada habisnya. Walaupun tubuh orang Indonesia tak sebesar orang Amerika, misalnya, namun toh ada saja peminat sofa berukuran besar. Alasannya, sofa berukuran besar itu nyaman diduduki karena sebagian orang suka duduk di sofa sambil bersila atau mengangkat kaki.

Sebaliknya, untuk menyesuaikan dengan ruangan di rumah mungil sekalipun, seperti kata Hardjono, pemimpin Softy, pembuat sofa berlapis bahan tenun Pekalongan, banyak pula orang yang memesan sofa dengan ukuran khusus sesuai dengan luas ruangannya.

Erwin Firmansyah, desainer interior dari Vivere yang memproduksi mebel minimalis juga mengatakan, perusahaan tersebut membuat dua macam ukuran sofa. Artinya, untuk satu jenis desain sofa, misalnya, dibuat dua ukuran, satu ukuran besar sesuai dengan standar internasional dan satu lagi diperkecil sesuai dengan bentuk tubuh umumnya orang Indonesia.

"Meskipun ukuran sofanya diperkecil, kami membuatnya tetap proporsional dan ergonomis agar bisa memenuhi kenyamanan dan keamanan orang yang duduk di atas kursi itu," kata Erwin menambahkan.

Roland Adam, desainer interior, mengamati bahwa popularitas sofa juga membuat jenis mebel ini relatif menjadi salah satu mebel yang banyak diminati desainer interior untuk mengembangkannya. Walaupun bentuknya cenderung tetap kotak, warna, corak kain, dan kenyamanan sofa bisa dikatakan tak ada habisnya.

"Sampai sekitar tahun 1980-an kita masih bisa lihat banyak rumah yang menggunakan sofa terbuat dari rotan. Kalau di dalam rumah, sofa rotan itu diberi pengempuk berpelapis kain, tetapi untuk luar ruang ada yang memakai pelapis kulit atau kain kanvas untuk di beranda," tutur Roland.

Selain rotan, pada masa-masa itu pun banyak dipakai sofa dari kayu dengan ukiran di bagian kepala dan sandaran tangannya. Sebagian sofa masa ini pun bagian kakinya dibentuk sedemikian rupa hingga tampak lebih luwes.

"Sofa model ini bahan pelapisnya juga beragam, ada yang menggunakan kulit sampai yang memakai semacam kain beludru. Sebagian lagi merasa tak cukup hanya menghiasi sofanya dengan ukiran, maka masih ditambahkan lagi dengan sentuhan warna keemasan di sana-sini," kata Roland lebih lanjut.

Sofa seperti itu termasuk salah satu desain yang populer, dan disukai sebagian orang dari kalangan atas sampai lapisan masyarakat bawah sekalipun. Bahkan sampai sekarang pun, dengan finishing dan bahan pelapis yang lebih beragam, desain sofa seperti itu masih ada penggemarnya.

KALAU sofa dengan ukiran seperti tersebut di atas mendapat pengaruh Eropa, sekitar tahun 1975-an desain sofa lain yang juga disukai orang adalah sofa gaya Amerika. Meski ukuran besarnya tak berbeda dengan sofa gaya Eropa, desain sofa gaya Amerika lebih sederhana daripada Eropa.

Selain pada desain bentuknya yang lebih sederhana-tidak banyak menggunakan ukiran- ukiran yang rumit-corak kain pelapisnya juga berbeda. Kalau pada sofa gaya Eropa biasanya digunakan corak kain bermotif, kain pelapis sofa Amerika lebih sederhana bahkan cenderung polos dengan warna netral seperti cokelat dengan berbagai gradasinya.

"Sekitar tahun 1990-an desain sofa yang banyak disukai orang sudah berubah lagi. Umumnya pasangan muda lebih memilih sofa bergaya modern yang bentuknya cenderung ramping dan tidak banyak pernak-perniknya," kata Roland.

Untuk sofa modern, orang biasanya bermain dengan bahan dan rangkanya. Ada yang memilih menggunakan rangka kayu yang tampak alami, tetapi ada pula yang lebih menyukai rangka besi atau stainless steel. Bentuk sofa modern juga lebih beragam, tak hanya cenderung kotak, tetapi lebih luwes.

"Kain pelapis sofa juga mengenal tren. Mereka yang menyukai sofa gaya klasik biasanya suka pelapis bermotif garis, kotak, bunga, sampai polkadot. Tren kain pelapis itu banyak dipakai pada tahun 1980-an sampai awal 1990-an. Menuju tahun 2000, orang lebih banyak memilih kain pelapis sofa tanpa motif atau polos. Permainan aksen muncul lewat tekstur kainnya," ujar Roland Adam.

Sementara Erwin melihat perkembangan sofa lebih mengarah kepada pemakaian bahan baku yang bisa membuat orang semakin nyaman duduk di sofa.

"Mungkin karena konsep kami adalah modern minimalis, jadi kain pelapisnya pun cenderung polos tanpa corak. Kalaupun ada coraknya, lebih merupakan sulur atau garis-garis yang tidak ramai. Kami bermain dengan bantal-bantal untuk memberi kesan tidak monoton pada sofa," katanya.

SEMENTARA itu, pada sofa berlapis tenun Pekalongan, Hardjono melihat perubahan desain bentuknya relatif tak berarti. Kalaupun ada perubahan, hanya pada bagian sandaran tangannya. Kalau sekitar 10 tahun lalu orang menyukai sandaran tangan berbentuk agak bulat, belakangan ini orang lebih banyak memilih sandaran tangan kotak saja, tanpa lengkungan sama sekali.

"Perubahan lainnya, kalau dulu duduk sofa itu menyambung seluruhnya, belakangan ini banyak permintaan untuk membuatnya menjadi dua bagian. Bagian bawah yang keras, lalu bagian atasnya diberi busa yang lebih empuk," ujar Hardjono.

Dari pengamatannya, pernah pada suatu masa orang menyukai sofa yang menggunakan lapisan kain tenun dipadankan, misalnya, bagian bawah menggunakan kain tanpa corak, maka bagian atasnya bercorak kotak-kotak. Namun perpaduan itu, menurut Hardjono, tak bertahan lama. Belakangan ini orang kembali menyukai sofa dengan satu corak kain satu macam saja.

Baik Hardjono maupun Erwin mengatakan perubahan lain pada sofa adalah pada sandarannya. Kalau dulu sandaran punggung dibuat "mati" atau menyatu dengan keseluruhan sofa, belakangan ini sandarannya dibuat "lepas" dari sofa hingga menyerupai bantal biasa yang berukuran besar.

Soal warna, kata Hardjono, sekitar dua tahun lalu orang masih suka memakai kain tenun berwarna cerah, seperti merah, hijau, atau biru menyala, kini selera pasar tampaknya kembali ke motif sederhana (polos dan garis) dengan warna lebih netral seperti cokelat susu, biru muda, atau krem.

"Warna terang masih disukai orang untuk memberi efek dekoratif pada ruangan, seperti kain tenun untuk korden atau bantal-bantal," kata Hardjono, yang membuat kain tenun untuk sofa lebih tebal daripada yang digunakan untuk membuat korden.

Hardjono yang kini mempekerjakan sekitar 50 orang di ruang kerja (workshop)-nya di kawasan Serpong, Tangerang, itu juga membuat slip cover atau kain penutup sofa. Kain penutup sofa ini, menurut dia, banyak diminati para ibu yang mempunyai anak balita (bawah umur lima tahun).

"Slip cover itu bisa dicuci, jadi mereka tak perlu repot-repot harus sering ganti kain pelapis sofanya. Kalau slip cover- nya sudah jelek, mereka tinggal membeli slip cover yang lain lagi. Ini lebih praktis," kata Hardjono, yang menjual slip cover untuk sofa dua dudukan seharga Rp 400.000-Rp 450.000 itu.
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Nyaman Tak Selalu Identik dengan Mewah

Nyaman Tak Selalu Identik dengan Mewah


JAKARTA – Home sweet home, tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah atau hunian sendiri. Ungkapan itu sangat pas menggambarkan betapa pentingnya peran rumah atau tempat tinggal. Bisa dibayangkan, setelah seharian bekerja di kantor tentunya kita masyarakat mencari tempat untuk beristirahat dan memulihkan diri. Demi semua itu, maka rumah atau apartemen atau tempat tinggal dibuat senyaman mungkin.

Alasan itu pula yang melatar belakangi Pradjoto, praktisi hukum yang memiliki rumah di bilangan Ciputat, Tangerang. Di rumahnya yang seluas 1.000 meter persegi ini baik sofa, karpet, gorden dan lukisan di dinding serta perabotan lain didesain sedemikian rupa sehingga menciptakan pemandangan dan rasa yang nyaman. “Saya sama sekali tidak merasa memiliki selera tinggi,” katanya merendah.
Menurut Prajoto, dirinya hanya ingin masuk rumah mendapatkan sesuatu yang menentramkan batin. Pulang kerja, badan capek, tentunya saya ingin kesejukan di rumah ini,” katanya mengenai rumah yang ditinggali bersama seluruh keluarganya itu.
Untuk menciptakan rasa nyaman itu, Pradjoto mengaku mendesain sendiri interior rumahnya bersama dengan sang instri. Tema dari interior yang ia kembangkan sederhana saja, terbuka/lapang dengan pilihan warna yang cenderung terang. “Rumah ini saya desain sendiri loh. Hampir setahun lamanya saya dan istri merancang dan memilih aksesoris untuk interior rumah ini,” jelasnya.
Pradjoto juga mengaku sama sekali tidak memanggil siapapun, apalagi yang namanya arsitek. Ia mengaku belajar otodidak dari buku atau majalah yang ia lihat. Kalau dirasakan bagus ia mencoba menerapkannya di rumahnya sambil menimbang-nimbang mana desain yang dirasakan pas di hati.

Harmonisasi
Bagaikan seorang arsitek ulung, disain interior rumah si pemilik dirancang sederhana dengan konsep keterbukaan. Kesederhanaan dalam interior membuat rumah Pradjoto terasa lapang. Di ruang tamu misalnya, ia letakkan empat set sofa tamu dengan bermacam-macam bentuk. Di tepi sebelah kiri ruangan tamu, terdapat cermin berukuran besar sebagai penyekat ruangan. Ruangan ditata sederhana, tetapi dengan penempatan perabotan rumah yang tepat, memberikan kesan kemewahan yang harmonis ke seluruh ruangan.
“Saya senang karena jerih payah mendesain interior rumah ini memberikan kepuasan. Dan itu saya kira merupakan bentuk pertanggungjawaban saya kepada Tuhan juga,” kata Pradjoto.
Ia menolak bila dikatakan interior yang ia desain tergolong mewah atau eksklusif. Menurutnya, yang penting bukan mahal tidaknya perabotan atau aksesoris yang membuat interior rumahnya kelihatan enak dipandang dan nyaman ditempati, namun yang utama adalah keserasian atau harmonisasi dengan sang pemilik. Jadi katanya, percuma saja bila interior mewah namun tidak memberi kenyamanan di hati.
Faktor kenyamanan ternyata tidak hanya diperlukan oleh rumah atau tempat tinggal (residence). Properti lain seperti perkantoran juga ternyata membutuhkan interior yang memberi rasa nyaman. PT MLC Indonesia adalah contoh tepat betapa pentingnya aspek interior bagi perusahaan. Perusahaan asuransi asal Australia ini menempati satu lantai di Gedung Nugra Santana di Jalan Sudirman.
Dibandingkan perusahaan lain yang menempati gedung perkantoran lain di Jakarta, MLC tergolong unik. Mengapa? Tidak lain karena desain interior di kantor ini “berani tampil beda”. Kebanyakan kantor atau perusahaan lain, entah karena tidak peduli atau tidak punya dana khusus, sama sekali tidak mendesain secara khusus ruangan kantornya. Kalau pun ada, interiornya kebanyakan terkesan klasik.

Tema Pantai
Di MLC tidak demikian. Menurut penuturan dari Fiona Siahaan, Corporate Communications PT MLC Indonesia, ruangan kantor justru dirancang khusus. Kali ini tema yang diusung adalah bertemakan pantai. Dengan demikian masing-masing ruangan membawakan interior yang berbeda-beda namun dengan satu konsep yakni nuansa pantai.
SH yang sempat berkunjung tak urung berdecak kagum.
Tempat pantry yang biasanya hanya berisi rak perkakas dapur, kali ini didesain dengan diberi kanopi dan meja serta bangku seperti layaknya suasana di pantai. Di salah satu titik di sepanjang koridor kantor, ada seperangkat kursi malas, payung besar dan meja kecil, persis seperti bila kita bersantai di pantai Kuta (Bali) atau Senggigi di Lombok. Di bagian lain kantor yakni di ruangan utama, terdapat ruang pertemuan antar pegawai sekedar bersantai sebentar. Uniknya, lantai ruangan beralaskan pasir, mengingatkan pada hamparan pasir putih di pantai.
Pertanyaannya, mengapa MLC mau melakukan terobosan yang unik ini?
“Ini memang sudah menjadi kebijakan dari manajemen MLC dan berlaku di seluruh cabang MLC termasuk di Indonesia. Hal ini merupakan strategi perusahaan untuk memberikan rasa nyaman dalam bekerja sehingga berbuah pada produktivitas karyawan,“ kata Fiona.
Ia menjelaskan, tema pantai yang menjadi sentral dari desain interior MLC Indonesia dipilih sendiri oleh karyawan melalui voting. Dan tema tersebut berbeda dengan tema yang dibawakan oleh kantor MLC lain seperti di Australia, Malaysia, dll.

“Happy“
Untuk rancangan atau desain, MLC khusus menyewa arsitek interior yang memberikan advis pilihan desain hingga selanjutnya menjadi apa yang dinikmati saat ini. Beruntung pula, manajemen MLC memberikan bantuan dana untuk merealisasikan desain tersebut. “Yang pasti interior yang kita buat tidaklah mahal, masih masuk dalam anggaran yang diberikan manajemen. Bagi kita yang terpenting bukan mahal, tetapi bagaimana interior itu membuat kita bekerja lebih nyaman, kreatif dan produktif,“ katanya.
Dan terbukti, tambahnya, terasa ada suasana yang jauh lebih baik dalam situasi kerja di kantor MLC. Fiona mengaku, rekan-rekannya merasa lebih happy dalam bekerja. Meski disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk, namun hati dan pikiran jauh lebih tenang. Tak lain berkat interior kantor yang terkesan lebih lapang, bersih dan pas di hati.
Barangkali strategi dari perusahaan sekelas MLC Indonesia ini bisa menjadi teladan bagi perusahaan lain. Jangan salah, interior bagus tidak selalu identik dengan mahal. Anda mau mencobanya?
(SH/rudy victor sinaga)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Interior kantor

Interior Perkantoran
Dari Citra sampai Produktivitas

KALAU Anda masuk ke sebuah kantor, apa yang pertama Anda lihat? Tata ruang kantor itu pastilah menjadi salah satu perhatian Anda. Kantor dengan tata ruang yang semrawut hampir pasti akan membuat klien atau tamunya berpendapat, kinerja kantor itu pun bisa jadi tak jauh berbeda dengan tampilan tata ruangnya.

OLEH karena itulah tata ruang sebuah kantor tak hanya harus membuat para pekerjanya nyaman menjalankan tugas, namun juga mampu menunjukkan citra diri yang ingin ditampilkan perusahaannya. Bahkan, bagi kantor-kantor yang bergerak di bidang jasa, seperti kantor pengacara, kantor notaris, dan bank, penampilan citra perusahaan lewat interior itu merupakan salah satu hal penting.

Mereka pun tak segan-segan menggunakan konsultan desainer interior untuk menata ruang kantornya, setidaknya mulai dari gerbang utama sampai ke ruang tamunya. Bahkan, untuk jenis bisnis yang memerlukan pembicaraan lebih intensif, misalnya pengacara, penataan interior amat diperhatikan sampai ke ruang kerja si pengacara.

"Mereka kan harus menghadapi berbagai macam klien, mulai dari yang urusannya satu jam selesai sampai yang mesti dilayani seharian. Jadi, ruang kantornya harus dibuat sedemikian rupa hingga nyaman untuk si pengacara, sekaligus bagi kliennya," kata Dedy Rochimat, Presiden Direktur Vinotindo Grahasarana, salah satu produsen interior perkantoran di Jakarta sejak tahun 1987.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung menanjak sebelum krisis moneter juga membuka peluang munculnya bisnis interior perkantoran. Masuknya para pemodal asing yang membawa pula kebiasaan di negerinya mempengaruhi tata ruang perkantoran di Indonesia, terutama di kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).

Adeline Monike, Manajer Pemasaran Datascrip Office Furniture & Filing Systems, perusahaan yang mulai mengisi mebel kantor sejak tahun 1974, mengatakan, seiring dengan datangnya para pekerja asing, mereka juga membawa perubahan pada cita rasa tata ruang kerja. "Dulu, tata ruang kantor nyaris seragam, bangku kayu, meja segi empat, dan lemari. Namun, sejak sekitar pertengahan tahun 1970-an itu, kantor perusahaan multinasional mulai menata ruangnya dengan desain dan pilihan mebel yang lebih beragam, lebih dinamis," ujarnya.

SEMAKIN terbukanya peluang berbisnis interior kantor seiring dengan semakin banyaknya pembangunan gedung-gedung perkantoran. Kalau dulu setiap kantor merasa perlu memiliki bangunan kantor sendiri, sejak tahun 1970-an kecenderungan itu mulai beralih kepada penyewaan ruang kantor di gedung-gedung pencakar langit.

Lingkup usaha kantor yang beragam jenisnya juga mempengaruhi segmentasi pasar yang dituju oleh para produsen interior kantor. Kalau dulu hanya perusahaan yang relatif besar merasa memerlukan jasa desainer interior dan pasokan mebel khusus untuk kantor, belakangan perusahaan berskala kecil pun ingin citra usahanya bisa muncul, antara lain lewat tata ruang kantornya.

Bervariasinya kebutuhan interior kantor juga melahirkan produsen interior kantor dari yang berharga ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah. High-Point, salah satu produsen interior kantor, tampaknya lebih menyasar konsumen menengah dengan harga mebel ratusan ribu per unitnya.

"Kami semula berbisnis interior rumah tinggal, namun melihat peluang bisnis office furniture, maka pada tahun 1988 kami sepenuhnya beralih ke produksi furnitur kantor," kata Amir Jaya, Asisten Direktur Pemasaran High Point.

Dedy Rochimat menuturkan, tahun 1988 saat usahanya baru merangkak dia sudah mendapat pesanan beromzet sekitar Rp 25 juta dalam waktu kurang dari sebulan. Setelah itu, nyaris usahanya tak pernah sepi dari pesanan membuat interior kantor. Bahkan, sampai sekarang pun dia hanya membuat furnitur kantor sesuai dengan pesanan yang masuk.

"Omzet sebesar itu pada masa awal usaha membuat mata kami makin terbuka pada peluang di bidang interior perkantoran," cetusnya. Maka, Dedy pun semakin mantap untuk mengkhususkan diri pada penyediaan interior kantor, terutama untuk kantor berskala menengah ke atas atau berharga jutaan rupiah per unitnya.

Baik Dedy, Monike, maupun Amir tak bersedia menyebutkan omzet usahanya, namun mereka mengakui bahwa bisnis interior kantor relatif tak banyak pemainnya, sementara kebutuhannya makin beragam. "Selain kantor di gedung tinggi yang biasanya sewa dan cenderung memerlukan perubahan tata ruang sesuai keperluan bisnisnya, setelah krisis moneter 1998 makin banyak muncul kebutuhan tata ruang untuk small office home office," ujar Monike menambahkan.

PERMINTAAN pada desain dan interior tata ruang kantor pun belakangan ini semakin beragam. Kalau sekitar tahun 1980 sampai awal 1990-an orang cenderung menyukai penataan yang senada untuk semua ruang kantornya, belakangan ini justru sebaliknya. Setiap ruang ditata sesuai dengan kebutuhan suasana kerja karyawan.

Begitu banyaknya variasi permintaan pada interior kantor ini juga mempengaruhi bisnis dan produksi interior kantor. Untuk kursi kerja, misalnya, pilihan desain dan bahannya amat beragam, mulai dari kayu, metal, kulit, sampai bahan sintetis. Kursi itu pun masih dibedakan lagi menurut fungsinya karena kursi pengambil keputusan berbeda desain maupun bahannya dari kursi ruang rapat atau kursi sekretaris.

Dedy mencontohkan, tempat tamu yang biasanya berada di ruang terdepan kantor cenderung lebih luwes. Artinya, pilihan interiornya tak hanya sebatas satu set kursi tamu, namun meja sudut, partisi, meja pojok, sampai pernak-perniknya diatur sedemikian rupa hingga mencerminkan citra perusahaan.

"Pilihan warna tata interiornya disesuaikan dengan simbol atau warna perusahaan itu. Pertimbangannya, mereka ingin agar pilihan warna yang merupakan perwujudan dari filosofi perusahaan itu dapat meninggalkan kesan pada tamunya," ujar Dedy.

Pembagian ruang kerja pun semakin tertata. Misalnya, ruang kerja untuk karyawan dengan tugas pembukuan dipisahkan dengan ruang kerja bagi karyawan bagian pemasaran. Salah satu alasannya, menurut Monike, tugas yang berbeda bila disatukan akan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.

"Karyawan pemasaran itu relatif lebih banyak bergerak, sementara tugas pembukuan memerlukan ketenangan dan konsentrasi tinggi. Kalau ruang kerja mereka disatukan, lalu lalangnya karyawan pemasaran bisa memecahkan konsentrasi kerja karyawan pembukuan," katanya.

Kalau melihat dinamika usaha, bisnis interior perkantoran tampaknya tetap menjanjikan. Meski Dedy mengatakan, dari segi harga, produsen harus mampu bersaing, antara lain, dengan produk Cina. Dia mencontohkan, sebuah kursi yang pada tahun 1988 berharga sekitar Rp 900.000 kini hanya naik menjadi Rp 1,2 juta.

"Kalau dihitung dengan inflasi dan ongkos produksi lainnya, kenaikan harga itu pasti tidak signifikan. Makanya, kami harus putar otak supaya produksi lebih efisien. Sementara di sisi lain kuantitas penjualan perlu digenjot agar harganya bisa tetap bersaing," ucap Dedy yang menyebut masa keemasan bisnis produksi interior perkantoran adalah sekitar akhir tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an.

Sekarang, peluang yang terbuka antara lain diperoleh lewat citra baru yang ingin ditampilkan perusahaan. Mulai tahun lalu ada kecenderungan perusahaan ingin mengubah desain tata ruangnya mengikuti citra baru yang ingin ditunjukkan perusahaan itu.

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Tips: Merancang Ruang Tidur yang Nyaman

BEBERAPA dekade belakangan ini banyak ilmuwan dari berbagai bidang tertarik menyelidiki mengapa dan seberapa banyak manusia dan semua makhluk memerlukan tidur dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Hasil penyelidikan-penyelidikan tersebut menunjukkan, tidur atau keadaan tidur dari manusia ternyata jauh lebih penting dari yang banyak diperkirakan sebelumnya. Bagi kita pemilik rumah, hal ini sangat berhubungan erat dengan rancangan kamar tidur di rumah kita.

Kebanyakan dari kita berpendapat bahwa otak kita selagi sadar hanya melakukan satu pekerjaan: berpikir, dan hanya pada saat kita terjaga. Secara keseluruhan perkiraan itu memang betul, namun belakangan para ilmuwan dari berbagai bidang, antara lain ahli ilmu syaraf dan psikolog menemukan bahwa otak manusia mampu melakukan kemampuan yang hampir tak terbatas untuk mengorganisasi segala informasi yang kita tangkap.

Akan tetapi, otak kita pun membutuhkan istirahat (dari kesadaran) untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengorganisasian tadi yang amat sulit dilakukan oleh otak manusia di saat sadar. Itulah sebabnya manusia dan hampir semua binatang menyusui secara naluriah mau mengambil risiko untuk tidur (artinya masuk ke dalam keadaan yang sangat tidak siaga terhadap berbagai kemungkinan ancaman) untuk mendapatkan waktu bagi otaknya guna berbenah diri. Tanpa tidur otak akan mengalami beban yang tak tertahankan. Tidur ternyata digunakan oleh otak kita untuk mengerjakan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan di saat kita terjaga.

Dengan anggapan tidur untuk memberi kesempatan bagi badan dan otak untuk beristirahat, kita menganggap bahwa kamar tidur juga berfungsi sebagai tempat menarik diri dari kehidupan sosial dan kemudian untuk mempersiapkan diri kembali ke dunia luar.

Fungsi pokok kamar itu sebagai tempat tidur sedikit terganggu dengan fungsi tambahannya. Rancangan tempat tidur kemudian menjadi semakin rumit dengan tambahan-tambahan fasilitas untuk fungsi-fungsi sekundernya. Akibatnya, tidur menjadi sesuatu yang lebih sulit dilakukan di kamar tidur itu. Lalu barangkali ini bisa dijadikan pendekatan alternatif dalam merancang kamar tidur Anda sebagai bagian terpenting dari suatu rumah tinggal.

Kamar tidur, selain ruang dengan tingkat hierarki privasi tertinggi, juga harus memiliki tingkat keheningan tertinggi sebagai cara yang paling umum untuk meningkatkan "kualitas" tidur Anda.

Konsekuensinya adalah tempat tidur harus sesederhana mungkin (hanya ada tempat tidur yang sangat nyaman) dan terisolasi dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

Demikian juga ukurannya, jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil. Sekitar empat kali empat atau empat kali lima meter persegi adalah ukuran yang pas untuk sebuah kamar tidur utama. Kamar tidur juga harus menghambat kegiatan-kegiatan selain tidur dilakukan di ruang ini. Pandangan yang umum berlaku dulu dan mungkin sekarang memungkinkan beberapa kegiatan nontidur bisa dilakukan di kamar ini, seperti berias diri, menelepon, menonton TV atau membaca yang dianggap bisa mengantar tidur. Dengan sedikit pengamatan ternyata semua itu akan mengganggu "jadwal" dan "kualitas" tidur Anda.

Rancangan yang tepat bagi sebuah kamar tidur adalah sedemikian rupa sehingga kamar tidur benar-benar berfungsi untuk tidur karena kita telah menyadari betapa pentingnya tidur itu. Jadi apabila nanti Anda terbangun seseorang boleh bertanya, "Bagaimana dengan tidur Anda semalam?
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872