Rabu, 12 Desember 2007

Kini, taman relief mulai tergeser oleh kehadiran taman minimalis.

Kini, taman relief mulai tergeser oleh kehadiran taman minimalis.

Di rumah-rumah yang berlahan cukup luas, keberadaan taman seperti sebuah keniscayaan. Taman yang asri akan membuat penghuni makin nyaman berada di rumah. Lantas, taman seperti apa yang cocok untuk hunian Anda?

Menjelang tahun 1990-an, taman relief tampil sebagai bentuk taman yang paling digemari. Keberadaannya seolah ikut menegaskan status sosial pemilik rumah. Maklum saja, untuk membuatnya diperlukan dana yang tidak sedikit. Namun, hasilnya seimbang. Rumah tampak lebih mewah, asri, dan tentunya natural.

Pada masanya, taman relief tampil dengan cirinya yang khas. Ada bebatuan berbentuk ceruk-ceruk tebing, air terjun mini, dan aneka tanaman hias disusun sebagai aksen. Biasanya, taman relief dipasangkan dengan kolam. ''Otomatis, perawatannya lebih rumit lantaran serangan lumut,'' jelas Farah Fakhriyah, arsitek yang menekuni bidang pertamanan (lanskap).

Kini, model taman relief seperti itu sudah tergolong usang. Yang belakangan makin mendapat tempat di hati masyarakat adalah taman minimalis. ''Kemungkinan besar, taman relief sekarang cuma ada di rumah-rumah lama,'' imbuh Farah.

Bisa dibilang, inilah metamorfosis taman relief. Seiring perkembangan arsitektur lanskap, taman relief pun menemukan bentuk baru. ''Menyesuaikan dengan tren arsitektur, taman minimalis makin disukai,'' kata alumnus Universitas Pancasila, Jakarta, ini.

Taman minimalis, lanjut Farah, tidak begitu rumit untuk diwujudkan. Luas lahan pun tak mesti menjadi kendala. ''Lahan luas ataupun kecil bisa dijadikan area taman.''

Meski begitu, jika bidang yang tersedia terlampau kecil, pesona taman tidak akan terpancar optimal. Lahan yang amat terbatas membuat taman kelihatan sempit. ''Agar lebih indah, tentu dibutuhkan luas tanah yang memadai,'' ucap Farah.

Taman akan terlihat lebih menawan jika diletakkan di posisi pinggir. Lahan berbentuk huruf 'L' dengan lebar antara dua sampai tiga meter, cukup ideal untuk dijadikan taman. ''Di bawahnya dapat disediakan kolam seperti gaya zaman dulu ataupun rumput,'' papar arsitek dari perusahaan jasa konsultasi arsitektur PT Genta Cipta Design ini.

Unsur bebatuan alam
Seperti halnya taman relief model lama, taman minimalis juga kerap melibatkan unsur bebatuan alam. Ciri inilah yang membuatnya seolah menjadi kelanjutan gaya taman relief terdahulu.

Meski disebut taman minimalis, tren sekarang sejatinya bukan murni minimalis. Sebab, taman minimalis lebih kental dengan permainan beton atau kaca. ''Yang saat ini digandrungi ialah taman minimalis dengan campuran unsur etnik Bali,'' urai Farah.

Unsur Bali tampak melalui penggunaan batuan alam. Perpaduan gaya minimalis dan etnik menyembulkan kesan tersendiri. ''Hunian terasa dingin dan sejuk.''

Nuansa yang lebih memukau bisa diciptakan dengan permainan air terjun. Agar terlihat lebih alami, tebarkan bebatuan di dasar dan sekitar air terjun. ''Untuk batunya bisa dipakai koral abu-abu atau warna-warni serta batu flores hijau.'' Jangan lupa, tampilkan pula beberapa tumbuhan air. ''Tumbuhan air seperti teratai kecil dapat disertakan sebagai pemanis,'' Farah berbagi tips.

Taman serupa juga dapat dibangun di dalam rumah. Keberadaannya membantu melunakkan dan menyegarkan bangunan bergaya minimalis. ''Kesannya, rumah menjadi lebih terbuka. Soalnya, hunian minimalis biasanya miskin jendela bukaan besar,'' kata Farah yang tengah menggarap taman dalam di Klinik Pasutri milik dr Boyke Dian Nugraha SpOG.

Membuat sendiri
Walau tak lagi menjadi tren, sah-sah saja bila Anda ingin mempercantik hunian dengan taman relief. Anda ingin membuat sendiri? Menurut Farah, bisa saja. Namun, jika tidak mengerti triknya, risiko gagal cukup besar. ''Untuk membuat air terjun misalnya, ada teknik yang mesti dikuasai.''

Risiko apa yang mungkin dihadapi oleh mereka yang tidak ahli membuat taman relief? Kebocoran paling sering terjadi. Selain itu, air bisa jadi tak mengalir dengan semestinya. ''Pengerjaan bebatuannya mungkin juga tidak rapi. Otomatis, pemilik rumah akan mengeluarkan biaya lebih banyak.''

Selain air terjun, salah satu elemen yang sangat penting ditambahkan pada taman relief adalah lampu sorot. ''Penempatannya bisa dari dalam air atau dari bebatuan ke dinding relief. Efeknya sangat dramatis dan lebih hidup,'' komentar Farah.

Jika Anda berminat membuat taman relief, jatuhkan pilihan pada taman relief modern. Taman jenis ini cenderung mudah dirawat. Terlebih, bebatuan yang dipakai sebagai relief telah dilapisi bahan tahan air. Alhasil, Anda akan lebih mudah membersihkannya. ''Cukup dibersihkan dengan sikat ketika mulai ditempeli lumut.'' Gampang, kan?

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Syarat Rumah Sehat dan Ideal

Empat persyaratan untuk rumah yang ideal dan sehat

1. Bagian dalam nyaman suasananya 2. Bagian luar asri lingkungannya 3. Bagian pengolah makanan (dapur) bersih 4. Bagian pembuangan limbah manusia (WC) bersih dan tersedia air istinja

"Rumahku Istanaku", inilah hadis nabi yang harus dihayati oleh pengikutnya. Rumah adalah tempat berkumpulnya anggota keluarga ketika melaksanakan sebagian aktifitas. Di rumah, nilai-nilai keluarga dan kemanusiaan ditanamkan secara turun-temurun kepada individu.

Sebagai sarana pokok suatu keluarga, keberadaan rumah harus menjadi perhatian utama. Bila rumah tidak berfungsi sebagai mana mestinya, maka muncullah penyakit masyarakat seperti masalah anak jalanan, gelandangan dsb. Empat persyaratan harus dipenuhi untuk dapat dikatakan sebagai rumah yang ideal dan sehat.

1. Bagian dalam rumah harus cukup tersedia kamar untuk orang tua, anak dan tamu. Untuk daerah tropis, sebaiknya loteng agak tinggi, sehingga volume udara dalam ruangan cukup. Ventilasi udara harus baik, demikian juga penerangan ruangan harus cukup.

2. Bagian luar rumah agar memiliki luas pekarangan yang cukup sehingga dapat ditanami tanaman penghijauan, buah-buahan, sayur-mayur dan bunga. Lingkungan sekitar rumah tidak boleh tercemar polusi. Tersedia fasilitas air, listrik dan sambungan telepon. Memiliki jalan yang dapat dilalui kenderaan untuk menuju sarana-sarana pelayanan umum seperti pasar, rumah sakit, sekolah dan tempat ibadah.

3. Bagian pengolah makanan rumah tangga atau dapur harus memenuhi persyaratan kebersihan. Di tempat inilah makanan diolah. Bila dapur kotor, maka makanan yang dimasak kotor pula dan hal ini berbahaya untuk kesehatan anggota keluarga penghuni rumah tersebut.

4. Syarat keempat rumah sehat. Punya jamban, WC bersih
Kakus dibuat, direncanakan cermat. Gunakan material, bahan terpilih.

Buatlah WC duduk berjongkok
Gampang istinja, bersihkan najis
Perintah agama yang sangat pokok
Seperti disebut dalam hadis

Jamban dan perigi tak boleh hampir
Berjarak sepuluh meter, kalau diukur
Tinja merembes, serta mengalir
Kalau kakus di dekat sumur

Bukti diri memiliki hormat
Walau belum pernah mengunjungi
Kakus jangan menghadap kiblat
Kiblat tak boleh dibelakangi

Laksana duduk di bolongan bangku
Cara berhajat orang Barat
Lain bangsa, berbeda perilaku
WC mereka tak penuhi syarat

Duduk bergantian di atas jamban
Tak sedia air untuk istinja
Sarana penularan bermacam kuman
Penyakit dipindahkan tanpa sengaja

Karena istinja perintah wajib
Haram hukumnya bila ditinggalkan
Ikuti syariat dengan tertib
Jangan menjadi muridnya setan

Begitu pula sesudah kencing
Wajib hukumnya bersuci hadas
Tidak seperti binatang anjing
Kotor dan bersih tiada batas

Ini mungkin hukumnya sunnah
Dalam aturan di atas dunia
Pemilik agar jadi hiasan rumah
Janganlah rumah untuk hiasan manusia

Jadikan anak hiasan rumah
Didik mereka tahu di empat
Kenakalan remaja dapat dicegah
Bila hubungan cukup rapat (idionline)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Risha, Alternatif Membangun Rumah Murah dan Cepat

Risha, Alternatif Membangun Rumah Murah dan Cepat

SEPINTAS, sebutan Risha seperti nama seorang perempuan, tetapi sesungguhnya dia adalah kependekan dari Rumah Instan Sederhana Sehat, yakni teknologi konstruksi rumah yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman di Cileunyi, Bandung.

UNTUK mengatasi kebutuhan masyarakat terhadap rumah, pembangunan perumahan dapat dipercepat melalui pabrikasi rumah sederhana sehat (RSH) dengan sistem Risha yang dapat dibongkar pasang.

Komponen-komponen RSH dengan sistem ini dapat dibuat secara pabrikasi sehingga diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, rumah swadaya, rumah darurat, atau perumahan pengungsi seperti di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang belum lama ini dilanda gempa dan gelombang tsunami.

Pola pembangunan Risha mengacu pada sebuah permainan anak-anak, yakni lego dan tamiya. Tipe rumah sederhana ini dibangun dengan cara merakit komponen-komponennya. Menurut Arief Sabaruddin, peneliti muda dari Puslitbang Permukiman, variasi jumlah komponen Risha hanya sedikit dan mudah dibongkar pasang (knock down) dan bisa dirakit langsung jadi alias instan.

"Artinya instan, semua kegiatan pembangunan rumah dengan sistem Risha tidak melibatkan kegiatan pengecoran sama sekali," kata Arief yang berbadan kurus ini. Ide membangun rumah sederhana dengan sistem Risha mengacu kepada perpaduan konsep bongkar pasang (dari lego) dan instan (dari makanan siap saji).

KONSEP dasar pembangunan rumah sederhana dengan sistem Risha adalah ringan, dapat dengan cepat dibangun, bisa dibongkar pasang, dan komponennya dapat diproduksi oleh usaha kecil menengah. Sistem ini juga bisa menurunkan biaya konstruksi, khususnya untuk rumah sederhana. Pada acara peluncuran teknologi pembangunan rumah dengan sistem Risha di Cileunyi tanggal 20 Desember 2004, biaya untuk membangun rumah sederhana dengan sistem ini hanya Rp 500.000 per meter persegi.

Dengan begitu, kalau masyarakat berpenghasilan rendah ingin membangun rumah sederhana tipe 21 dengan menggunakan sistem Risha, mereka cukup mengeluarkan dana sebesar Rp 10,5 juta (untuk daerah Bandung dan sekitarnya). Rumah ini juga bisa dibangun secara horizontal maupun vertikal.

Risha terdiri atas tiga komponen utama, yakni komponen struktural, pengisi, dan komponen utilitas. Bagi masyarakat yang ingin mengubah penampilan rumahnya setiap tahun, Risha juga dapat direkayasa ulang karena dapat dibongkar pasang tanpa harus membuang material yang telah digunakan dan dapat dimanfaatkan kembali untuk rancangan atau desain lain yang diinginkan.

Selain itu, tutur Arief, dalam pengerjaannya, sistem Risha juga tidak memerlukan waktu lama dan hanya membutuhkan sedikit tenaga. "Itu sebabnya moto dalam pembangunan Risha adalah pagi pesan, sore huni," kata Arief berpromosi. Jika kita memesan satu unit Risha pagi hari, maka hanya dalam waktu lebih kurang delapan jam, rumah sudah akan berdiri dan siap dihuni sore harinya.

Berbagai komponen yang digunakan juga tergolong ringan dan dapat dikerjakan oleh tiga orang saja. Yang bisa merakit komponen Risha bisa pengusaha usaha kecil menengah (UKM) maupun pengembang yang akan membangun RSH. Komponen yang digunakan dalam sistem Risha relatif ringan. Komponen struktural Panel 1 berukuran 1,20 x 30 sentimeter dan memiliki berat kurang dari 50 kilogram.

KOMPONEN tersebut ringan dan dapat diproduksi oleh masyarakat dalam bentuk industri rumah dan UKM. Adapun untuk menghubungkan satu komponen dengan yang lainnya digunakan baut (join kering). Untuk komponen struktur memakai beton bertulang yang dicetak di atas cetakan baja. "Pembuatan cetak baja relatif mudah dengan menggunakan baja profil kanal 10," ujar Arief menjelaskan.

Seluruh komponen utama Risha terdiri atas tiga komponen struktur, tiga komponen partisi, dan tiga komponen kuda-kuda dengan fondasi dan sloof yang dipabrikasi. Rangka struktur terdiri atas tiga komponen, yaitu dua panel struktur dan satu simpul, sedangkan konstruksinya dibuat dari beton bertulang dengan tulangan utama diameter 8 milimeter dan sengkang diameter 6 milimeter.

Demikian pula simpul, terbuat dari beton bertulang yang diperkuat oleh pelat baja pada bagian sambungannya, sedangkan panel dengan panel atau panel dengan simpul dihubungkan dengan baut berdiameter 12 sentimeter yang diberi ring. Rangka struktur ini mampu menanggung beban rumah Risha dengan dua lantai.

Menurut Arief, rumah instan Risha dapat didirikan di atas lahan mana pun. Namun, pada kondisi khusus seperti tanah lunak, fondasi harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Sedangkan dari segi kekuatan terhadap getaran, rumah ini telah diuji dengan alat uji gempa. "Sejauh ini Risha dapat dibangun pada daerah gempa sampai dengan zonasi enam," katanya menambahkan.

Uji gempa juga dilakukan pada rumah sistem Risha dengan dua lantai di Puslitbang Permukiman di Cileunyi. Selain melakukan pengujian terhadap gempa, Risha juga sudah memenuhi ketentuan tentang sebuah rumah yang sehat sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002. Standar kesehatan sebuah rumah antara lain harus memiliki sanitasi yang sehat dan ventilasi yang mencukupi.

PADA acara peluncuran pembangunan rumah dengan sistem Risha di Bandung hadir Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy’ary, Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi dan Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria.

Menurut Menpera Yusuf Asy’ary, Risha telah memperkaya alternatif teknologi pembangunan RSH. Salah satu alasan dikembangkannya pembangunan RSH dengan sistem Risha adalah dalam rangka mengatasi semakin meningkatnya harga bahan bangunan serta mengatasi semakin terbatasnya pasokan bahan bangunan alami seperti kayu yang menjadi bagian terbesar dalam konstruksi rumah sederhana.

Namun, lanjut Menpera, efektivitas pemanfaatan teknologi Risha ini masih perlu dibuktikan di lapangan, terutama untuk daerah yang belum memungkinkan untuk diproduksi secara massal.

"Kita maklumi bahwa penggunaan bahan bangunan beton pada Risha ini akan lebih efektif kalau didukung peran aktif dunia usaha untuk dapat memproduksi dalam jumlah yang cukup signifikan sehingga dapat diperjualbelikan di pasar (toko bahan bangunan) agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat," ungkap Yusuf Asy’ary.

Kalau hanya diproduksi dalam skala kecil, apalagi harus melalui proses pengiriman dari satu daerah ke daerah lain, biaya akan menjadi mahal. Di lain pihak apabila akan dikembangkan oleh industri kecil setempat, perlu dikaji kelayakan ekonomisnya dikaitkan juga dengan permintaan pasar akan bahan bangunan tersebut.

Ketika hal ini ditanyakan kepada pengembang, Ketua Umum DPP REI Lukman Purnomosidi mengatakan sepanjang ada permintaan dari masyarakat dan perbankan mau memberikan kredit untuk pembangunan RSH dengan sistem Risha, pihaknya akan membangun rumah dengan teknologi baru itu.

Di era seperti sekarang, suatu teknologi baru betapapun praktis, tepat guna dan murah, tetapi kalau tidak diminati masyarakat belum tentu bisa digunakan secara massal.

Kalau teknologi pembangunan dengan sistem Risha tidak dapat digunakan secara massal, maka biayanya akan menjadi mahal. Oleh karena itu, untuk menerapkan konsep pembangunan RSH dengan sistem Risha, diperlukan komitmen dan pelaksanaan yang konsisten dan terpadu di antara semua pihak yang terkait dengan industri perumahan. (TJAHJA GUNAWAN)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Paduan Serasi Minimalis-Tropis

Paduan Serasi Minimalis-Tropis

Membangun rumah bergaya minimalis membutuhkan banyak semen. Kesan minimalis begitu terpancar dari bagian depan rumah. Garis-garis lurus tampak mendominasi kediaman milik pasangan Sri E Setiasih - Ndaru Endrio ini.

Namun, begitu memasuki bagian sebelah kiri luar rumah yang terletak di Jalan Pendidikan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat itu justru kesan tropis yang begitu kental terasa.Ternyata rumah yang berdiri di atas lahan seluas 500 meter persegi itu memadukan gaya minimalis dan tropis. ''Awalnya, suami saya ingin punya rumah minimalis. Namun, di tengah pengerjaan saya memasukan gaya tropis,'' ujar Sri yang akrab disapa Oonk ini.

Hasil akhirnya adalah sebuah paduan serasi minimalis-tropis.Gaya minimalis memang begitu mendominasi kediaman ini. Hal itu tampak dari desain arsitektur, warna, serta pernak-pernik lainnya. Meski begitu, beberapa bagian tampak dimodifikasi sehingga menghasilkan perpaduan. ''Untuk void misalnya saya beri motif bunga-bunga agar tak berupa garis lurus saja,'' tutur ibu dua anak ini.

Saat memasuki bagian interior rumah ini, kesan sejuk mulai terasa. Langit-langit yang tinggi ditambah sirkulasi udara yang baik berhasil menghasilkan kesejukan. Suasana adem itu pun didukung dari lantai marmer yang menutup semua bagian interior rumah. ''Kita menggunakan marmer bercorak agar terasa sejuk.''Rumah dua lantai ini juga menerapkan pola minim sekat. Sehingga, ruang tamu dan ruang keluarga dibiarkan terbuka.

''Saya memang inginnya punya rumah yang tak banyak sekat, soalnya kalau ada acara biar bisa menampung banyak orang,'' imbuh Oonk. Selain itu, pembagian beberapa bagian interior pun menerapkan split level.Ruang tamu dan ruang santai keluarga dipisahkan dengan ketinggian sekitar satu level. Begitu juga dengan kamar tidur utama yang juga lebih rendah satu level. Menurut Oonk, soal permainan split level itu sengaja dilakukan.

Sebab, kontur tanah pada awalnya memang sudah seperti itu. Di lantai satu ini terdapat beberapa ruangan seperti ruang tamu, kamar tidur utama, kamar tidur tamu, ruang santai keluarga, kamar mandi, serta dapur. Di bagian belakang ada kamar pembantu. Sedangkan di lantai dua, terdapat dua kamar anak serta ruang untuk hiburan keluarga.Bagian interior ruangan didominasi warna abu-abu.

''Itukan warna khas dari rumah minimalis,'' tuturnya. Namun, agar tak tampak monoton, ia pun menambahkan warna orange pada beberapa bagian dinding rumahnya. Lantai pun juga dipilih warna abu-abu bercorak. Menurutnya, warna abu-abu juga turut menghadirkan nuansa kesejukan. Butuh waktuDesain arsitektur rumah yang luasnya sekitar 300 meter persegi itu dikerjakan oleh Yudhi arsitek dari Studio Lanansa. Namun dalam perjalannya, ia melakukan beberapa modifikasi. Oonk menambahkan, membangun rumah bergaya minimalis ternyata membutuhkan waktu yang lama.

Tak hanya itu, rumah bergaya minimalis juga membutuhkan sangat banyak bahan semen.''Bahan yang paling banyak digunakan adalah semen. Hampir habis 500 zak,'' ucapnya. Untuk mencari bahan-bahan bangunan, Oonk mengaku mencarinya sendiri. Bahkan untuk mendapatkan bahan seperi marmer bercorak, ia harus belanja di daerah Bandung.Di bagian depan dan samping kiri eksterior rumah, ia menghadirkan taman bernuansa tropis. Beberapa tanaman hias dan pohon khas tropis membuat taman tampak indah dan rindang. Agar nuansa tropis semakin terasa, batu-batu alam digunakan sebagai lantai atau penyerap tumpahan air hujan. Nuansa tropis kian terasa, karena dinding rumah sebelah kiri ini menggunakan batu alam palimanan. Nilai historisTaman tropis ini juga dilengkapi dengan gezebo. Dibagian belakang rumah juga dilengkapi kolam renang mungil. ''Kalau untuk kolam renang dikerjakan terpisah,'' paparnya.

Rumah ini pun ternyata memiliki nilai historis bagi pasangan ini. Menurut Oonk, kediaman tersebut merupakan kado ulang tahun pernikahan yang ke-17.Yang unik, di bagian teras belakang terpasang foto-foto rumah yang kebanjiran. ''Itu rumah kami dulu. Tiap hujan pasti kebanjiran,'' tuturnya sembari tersenyum. Di rumah yang baru, pasangan yang dikarunia dua anak ini bisa hidup dengan tenang dan nyaman. ''Sekarang tak khawatir lagi bila turun hujan.''
(idionline/RoL)


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Kiat Membangun Rumah Asri

Kiat Membangun Rumah Asri tetapi Murah

TAK sulit menciptakan rumah yang asri, nyaman, aman, sekaligus murah. Kuncinya terletak pada niat dan kesungguhan, pemilik rumah maupun tetangga yang tinggal di sekitarnya.

Salah satu jalannya ialah pembangun rumah merancang rumah itu secermat mungkin, agar bukan saja menghemat biaya, meraih kenyamanan, tetapi sekaligus tidak mencabut akar kebudayaan masyarakat setempat.

Bagaimanapun kalau kita kembali ke dalam kehidupan nenek moyang, dan kembali ke selera asal nenek moyang, kita akan banyak belajar mengenai seni membuat bangunan," ungkap Ketua Dewan Penasihat Pembangunan Kota Semarang, Eko Budihardjo kepada Kompas pekan lalu. Dari nenek moyanglah, tutur Eko, kita belajar tentang kearifan menentukan bahan bangunan yang murah dan kuat. Apalagi, kalau bahan-bahan sederhana seperti batu dan bambu-yang diikat dengan jerami-akan semakin tampaklah keindahan, keunikan dan variasi yang diciptakan.

Bahkan, dari hasil karya sederhana itu, kita kian mampu menunjukkan karakteristik dari masing-masing pribadi. "Misalnya, karakteristik Jawa yang terkenal dengan seni bambunya. Ataupun bahan-bahan lain yang kita jumpai di daerah-daerah Indonesia bagian timur," jelas Rektor Universitas Diponegoro, Semarang.

Eko menyayangkan keunikan itu kini telah luntur, dan digantikan oleh perumahan-perumahan yang bergaya Eropa, Amerika Serikat dan berbahan baku dari kedua benua itu. Model bangunan-bangunan yang tercipta kerap kali tidak lagi menekankan pentingnya beranda depan dan belakang. Padahal, hal ini merupakan simbol kultural di sini. Tipikal rumah-rumah yang ada di pinggiran atau bahkan di kota-kota besar, seperti Jakarta meneguhkan pandangan itu.

Para konsumen disodori rumah siap pakai, tetapi ternyata setelah sekian tahun digunakan, terdapat banyak kerusakan. "Sebetulnya, kita bisa menciptakan perencanaan pembangunan rumah yang sederhana. Masyarakat kita mempunyai kemampuan membangun rumah yang lebih baik, sederhana, dan murah," tutur Eko. Baru-baru ini, ujarnya, di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang, terdapat pembangunan perumahan-yang bertumpu pada prakarsa kelompok masyarakat.

"Masyarakat yang bahu-membahu dijadikan basis membangun rumah ini sudah dimulai oleh (Alm) Mangunwijaya di bantaran Kali Code, Yogyakarta," paparnya. Selain keunikan, ujar Eko, bentuk bangunan sebagai karya seni sosial yang melibatkan banyak orang dari pemilik sampai tukang bangunnya akan menciptakan keasriannya.

Sementara, kalau kita melihat bangunan di luar negeri (yang ternyata modelnya diambil begitu saja oleh masyarakat Indonesia, dengan segala interior ruangannya) karakteristik penghuni sebagai subyek penciptanya telah hilang. Padahal, tambahnya, dalam membentuk rumah, kita ibarat merancang dan menggunakan baju untuk penampilan jati diri. Eko yang menyitir pendapat Mangunwijaya berpendapat, bambu atau rotan mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan, meskipun terkadang bahan baku tradisional ini membuat orang kadangkala menjadi rendah diri, kurang percaya diri.

"Itulah manusia yang sering disebut sawung sinawang," jelasnya tentang pola hidup orang yang suka melihat dan mengikuti begitu saja trend negara tetangga. Semestinya kita kembali pada kebudayaan dan menumbuhkan kembali jati diri kita. Tanpa mau menyebut berapa biaya pembangunan rumah asri yang menekankan pembangunan rumah menggunakan bahan tradisional itu, Eko dengan tegas mengatakan, "Pembangunan dengan bahan-bahan tradisional akan jauh lebih murah dibandingkan dengan bahan-bahan baku modern.

Jadi, fenomena kultural dalam membangun rumah bukan hanya sekadar penampilan fisik bangunannya," jelasnya. Paling tidak, kata Eko, tips yang bisa digunakan sebagai patokan ialah, pertama, model Mix Housing di mana bangunan modern silakan dibangun, namun bangunan ciri khas kampung lama tetap harus dipertahankan. Dalam model ini, kita membiarkan kedua model itu hidup berdampingan untuk menggambarkan keragaman warganya.

Kedua, perumahan yang asri juga harus menyediakan sarana bermain, ibadat, sarana kesehatan, dan tempat terbuka untuk berkumpulnya para warga sekitar. Ketiga, upaya subsidi silang antara masyarakat kelas atas dan bawah harus tetap diadakan, sehingga menciptakan hubungan sosial yang akrab dan saling menghormati. Karena itu, tambah Eko, akan terhindarlah sikap eksklusivitas dalam hidup berumah tangga.

AGAR keasrian perumahan sederhana dapat terealisasi, diperlukan kebijakan pembangunan perkotaan. Menurut Arsitek-Urbanis Marco Kusumawijaya, bicara mengenai perumahan di Jakarta itu berat, karena kebijakan perumahan tidak nyambung dengan kebijakan pembangunan kota. Misalnya, masalah paling berat mengenai perumahan itu adalah tanah.

"Bagaimana perumahan bisa menjadi baik, kalau tanah tidak secara sistematik disediakan dalam kebijakan kota? Kebijakan kota bukan cuma dikatakan di dalam master plan bahwa daerah tertentu itu kuning sehingga dapat didirikan rumah," jelas penggiat Arsitek Muda Indonesia ini. Akan tetapi, kebijakan kota juga harus ada pengendalian harga, karena di seluruh dunia, masalah rumah itu sangat menyangkut masalah tanah. Begitu kita bicara sistem kapitalis, harga tanah itu penting sekali dalam komponen seluruh harga rumah.

Jadi, ujarnya, kalau ada yang mengatakan Jakarta itu kota yang padat, kita harus melihat dulu seperti apa padatnya itu. Sebab jika dilihat dari atas, ternyata di belakang gedung-gedung bertingkat itu terdapat lahan yang kosong. Tampak sekali adanya over-speculation. Ketua Masyarakat Lingkungan Binaan ini berpendapat, "Banyak orang mengatakan bahwa Jakarta menuju kota jasa, karena itu harus membutuhkan lebih banyak tanah untuk bisnis.

Padahal, itu hanya omong kosong dan tidak ada alasan rasional. Anehnya, tidak ada perhitungan yang rasional dan terbuka kepada masyarakat, mengapa dibutuhkan sekian ruang bisnis dan mengapa tidak dibuka lebih banyak perumahan untuk kelas menengah dan kelas bawah?" Di Indonesia, ujar Marco, pengembang sendirilah yang diserahkan untuk membebaskan tanah, membangun sampai menentukan fungsi bangunan, entah untuk perkantoran, mal, perumahan.

Semua tergantung pada developernya, sehingga developer tentu memilih agar tanah dan bangunan tersebut bisa cepat menguntungkan. Dengan demikian, tentu mereka tidak akan memikirkan kebutuhan kota. Padahal, yang seharusnya memikirkan pembangunan kota bukan pengembang, melainkan birokrasi kota, sehingga terjadi keseimbangan antara hunian dan fungsi lainnya.

Keseimbangan ini berguna, pertama, untuk melindungi perumahan karena dia tidak akan mampu bersaing. Nilai tanah untuk perumahan akan kalah bersaing dengan nilai tanah untuk fungsi lain. Nilai di sini dalam arti nilai kapitalistik, bukan nilai guna. "Jadi, kalau kelas menengah saja begitu, apalagi kelas bawah. Tentu, kelas bawah ini harus dibantu semaksimal mungkin. Tidak bisa tidak," papar Marco.

Untuk itu, kata Marco, kita membutuhkan kebijakan pembangunan. Artinya, program perumahan hanya dapat berhasil, kalau ada kebijakan pemerintah yang sadar dan mengintegrasikan perumahan atau menyatakan kepentingan perumahan sebagai bagian utama dari pembangunan kota secara keseluruhan. Misalnya, menyediakan tanah, mengendalikan fungsi tanah melalui perusahaan-perusahaan daerah, dan mengendalikan harga tanah melalui tanah-tanah negara yang masih dikuasainya.

"Alasannya, perumahan tidak dapat dibiarkan diputuskan oleh logika dari masing-masing perusahaan. Mengenai perumahan, hal inilah yang mendesak dan perlu kebijakan yang sifatnya struktural, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan dan kebijakannya. Kalau tidak, akan sulitlah memecahkan masalah perumahan bagi masyarakat baik kelas menengah maupun kelas bawah," jelasnya.

Selain tanah, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana alat transportasi bukan sekadar mengikuti pasar, melainkan juga berdasarkan keinginan mengendalikan pembangunan kota. Pertanyaannya, mungkinkah menciptakan perumahan yang sesuai dengan kocek pendapatan masyarakat kelas bawah? "Subsidi tidak hanya dari pemerintah, melainkan juga bisa dari perusahaan atau pabrik yang menyediakan mes bagi karyawannya. Kalau kita bicara cost bangun rumah, maka kalau tanah (sekalipun) digratiskan untuk masyarakat kelas buruh, belum tentu mereka bisa membangun rumah," ujar Marco. Sebetulnya, kata Marco, yang diperlukan kalangan masyarakat kelas bawah itu adalah shelter yang baik sehingga mereka bisa lebih produktif dan menghasilkan banyak uang untuk ditabung.

Lalu, hasil tabungannya itu bisa dibelikan rumah di tempat lain, mungkin dengan cara kredit atau cash. Tanah negara, menurut Marco, tidak usah dijualbelikan kepada masyarakat kelas bawah. Mereka lebih membutuhkan hunian yang baik dan sehat, sehingga mereka justru bisa melakukan produktivitas maupun reproduktivitas sosial dengan baik pula.

Bagaimanapun negara harus tetap menguasai sejumlah tanah yang selalu bisa dimanfaatkan untuk membantu kaum lemah. Yang sudah dibantu, diharapkan kelak lulus, sehingga bisa beli rumah di tempat lain. Tetapi, tanah negara harus bisa digunakan untuk kaum lemah yang berikutnya, sehingga prinsip bergulir tetap berjalan. "Karena itu, masalah perumahan terdapat hal-hal yang sifatnya kultural, masyarakat harus diberdayakan, tetapi kita tidak bisa mengabaikan masalah struktural seperti tanah yang harus ditangani oleh kebijakan pemerintah," ujarnya.

Masalahnya, bagaimana menentukan kalkulasi pembangunan perumahan untuk kaum lemah? Marco menuturkan, semua kalkulasi itu membutuhkan research teknik membangun rumah dan bahan bangunan yang murah. Arsitek tetap harus dibayar, meskipun perumahan itu untuk kalangan bawah. "Yang harus menyubsidi untuk kegiatan sosial ini bukan arsiteknya, melainkan penyandang dana. Kalau arsiteknya disuruh menyubsidi, lalu biaya kreativitas pembuatannya itu dipotong-potong, hal itulah yang bisa membuat dia malas," ujarnya.

Bercermin dari prinsip arsitek di India, Marco berpendapat, para arsitek itu bekerja dengan profesional dan dibayar, kendati tidak sangat tinggi dibandingkan ketika mereka membangun gedung mewah. Tetapi jelas ada penghargaan yang pantas untuk proses kreativitas para arsitek. "Adalah salah, bila kita menganggap bahwa merancang rumah sederhana itu sebagai pengabdian kepada masyarakat, lantas arsitek itu tidak dibayar. Itu justru tidak profesional," katanya.

Secara keseluruhan, jelas Marco, banyak hal yang harus digerakkan melalui kebijakan, membuat arsitek tertarik berkreasi. Research mengenai bahan bangunan, dan sistem pendanaan. Sistem pendanaan ini penting, katanya, di antaranya untuk menghemat banyak hal, termasuk biaya pembangunan fisik.

Menurut Fact Sheet yang diterbitkan Pusat Hak Asasi Manusia dalam rangka proyek World Campaign for Human Rights, perumahan yang layak dijabarkan dalam "Strategi Global" sebagai lingkungan pribadi, ruang, keamanan, penerangan dan ventilasi, prasarana dasar dan lokasi yang layak dengan memperhatikan pekerjaan dan fasilitas dasar dan semua dengan harga yang layak. Menurut Marco, batas minimum ialah standar yang tidak dapat dilanggar.

Artinya, sampai batas tertentu, cost rumah itu tidak bisa lagi dipotong-potong. Yang bisa dipotong-potong ialah biaya uang. Kalau uang itu dipinjam, tentu ada bunga dan waktunya. Intinya, antara kebijakan perkotaan harus ada integrasi dengan kebijakan pembangunan perumahan. Kebijakan perkotaan, antara lain, bertugas mengarahkan untuk mengatur tanah, lokasi, prasarana, dan transportasi. Selain integrasi kebijakan itu, tambah Marco, ada beberapa tips agar pengadaan perumahan dapat terealisasi.

Pertama, janganlah berpikir untuk memiliki rumah bagi mereka yang ada di bawah umur 35 tahun. Mungkin, untuk kelas bawah pada usia di bawah umur 40 tahun. Alasannya, untuk kelas menengah saja, masalahnya terletak pada uang muka. "Harga tanah biasanya tidak terkejar oleh orang muda kelas menengah, apalagi kalau mereka baru lulus atau baru bekerja. Di luar negeri pun demikian," katanya.

Uang muka untuk beli rumah, menurut Marco, bisa sampai sekitar 70 persen masih ditanggung oleh orangtua. Sedangkan untuk warga kelas bawah, jangan menggunakan uang muka, melainkan menggunakan sistem cicilan, entah tiap hari, minggu, atau bulan. Jadi, salah satu kemungkinannya adalah sistem sewa beli. Setelah mencicil sekian tahun, akhirnya mereka bisa memiliki. Namun, kembali lagi kepada prinsip, tanah negara sebaiknya jangan jadi milik person, sebab biar bagaimanapun negara perlu memiliki stok tanah untuk mengendalikan keseimbangan kehidupan.

Kedua, kata Marco, harus terjadi kolektivitas, sehingga harga dapat ditekan semurah mungkin. Lalu, dari kolektivitas itu harus juga terjadi kesediaan dari masing-masing warga untuk dapat bertata krama. Bukankah orang datang ke kota, karena banyaknya keragaman. Begitu juga orang miskin, mulai dari MCK yang dapat digunakan secara bersama-sama sampai ruang terbuka yang baik untuk berkumpul.

Kolektivitas itu membutuhkan organisasi politik, dalam arti mengupayakan kepentingan bersama dan memberdayakan kemampuan individu menjadi kemampuan bersama. Ketiga, dalam membangun rumah yang layak, arsitek perlu mempertimbangkan baik fisik bangunan agar tidak mudah roboh, melainkan juga kultural masyarakatnya yang sering menggunakan simbol-simbol budaya. Bukan modernisasi yang dipaksakan begitu saja, karena dari ruang yang sama ukurannya, tetapi kalau letaknya berbeda, tetap akan beda efisiensi, efektivitas, dan maknanya.

Misalnya, ruang terbuka yang semakin besar, tidak berarti semakin baik. Alasannya, semakin ruangan besar, semakin pula banyak orang asing bisa masuk, sehingga tidak aman. Pembangunan rumah, menurut Marco, tergantung dari gaya hidup dan lokasi. Kalau lokasi baik, silakan saja dibangun. Akan tetapi, kalau membahayakan warga, sebaiknya dihindari, karena hal ini tidak manusiawi.

Bukan berarti pembangunan rumah kaum lemah oleh Mangunwijaya di bantaran sungai Kali Code, Yogyakarta, berhasil, lantas semua bantaran sungai diizinkan untuk dibangun rumah. Kita jangan terlampau cepat menggeneralisasi masalah. Yang menjadi pertanyaan, masih adakah arsitek dan pengembang sarana publik yang tergerak hatinya untuk merancang kawasan atau bangunan yang diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat?
(idionline/Net)

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Selasa, 04 Desember 2007

Peluang Investasi Properti


NIAGA CIPADU

Pusat Industri & Perdagangan Terpadu
Rujukan Pedagang Nasional dan Internasional
Investasi Menguntungkan


Niaga Cipadu diproyeksi menjadi pusat produksi dan showroom textil, pakaian, assesoris pakaian, perlengkapan konveksi paling lengkap di Indonesiaa, sehingga sangat wajar bila akan menjadi rujukan pedagang lokal dan internasional. model seperti ini pertama di Indonesia, tapi sudah menjadi trend model Pusat Industri & Perdagangan terbaik di negara China

Saat ini telah bergabung pedagang Tanah Abang dan Pedagang Cipulir Jakarta, dan anda berikutnya...

Investasi menguntungkan dengan fasilitas lengkap dilokasi strategis dan sertifikat hak milik

Nyaman Usahanya, menatang untungnya, terjangkau harganya.

Segera Hubungi Kami di :

Tel :021-73888872 / 68992324

Fax : 021-5854501 / 7353373

E-mail : sosialisasi@gmail.com

Kelebihan Ruker Niaga Cipadu :

* Pengembang Ternama dan Terpercaya
* Sertifikat Hak Milik
* Bebas banjir
* Harga terjangkau
* Lokasi Strategis
* Model Sukses Di China


PENGEMBANG :
PT. Adhimix Precast Indonesia

Adalah Perusahaan Swasta Nasional yang sebelumnya merupakan Divisi dari PT. Adhi Karya (Persero). Usaha yang digelutinya adalah dalam bidang Readymix, Precast, Konstruksi, Property, dan Bekisting
Sebagai bentuk komitmen dalam segi kualitas, PT.Adhimix Precast Indonesia mendapat Sertifikat mutu ISO 9000 dan Sertifikat mutu SuperBrands
Pengelolaan Ruker Niaga Cipadu akan dilakukan oleh pihak developer sampai nanti setelah semua ruker terjual, setelah itu pengelolaannya akan dilimpahkan kepada Perhimpunan Penghuni.
Pengelolaan ini meliputi : sistem perparkiran, sistem keamanan kompleks, sampah, pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas umum, dan lain-lain. Pengelolaan Ruker Niaga Cipadu akan dilakukan dengan standart yang berlaku umum dan transparan.

Dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, maka ditunjuk suatu bagian, yaitu customer service.
Akan tetapi pelayanan yang baik kepada konsumen tidak semata-mata dilakukan oleh seorang customer service, akan tetapi diharapkan semua unsur atau bagian dari perusahaan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen.

Dilihat dari semua segi dan sudut pandang, Ruker Niaga Cipadu sangat layak (feasible) untuk dibangun dan dipasarkan karena akan menguntungkan semua pihak, baik perusahaan sebagai developer/penjual maupun pelanggan/pembeli.


SMSPlus :. PKS Partai Keadilan Sejaktera Di Indonesia 2009 Apa Kata Media :.
Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

Sabtu, 01 Desember 2007

Konsultasi Biaya Rumah Minimalis

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau menanyakan berapa kira-kira biaya maksimal yang harus saya sediakan untuk membuat suatu model rumah minimalis, apabila luas tanah yang saya miliki 100 meter dan apakah dengan luas tanah tersebut saya bisa memiliki 3 buah kamar tidur dan garasi mobil, atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam.

Eddy

Jawaban

Assalaamu'alaikum wr wb

Pak Eddy yang saya hormati,

Dengan luas tanah 100 m2, paling tidak luas bangunannya 70 m2. Atau bisa juga 80 m2. Jadi maksud saya kita harus tetap menyisakan sisa tanah yang bukan bangunan guna dibuat taman.

Ruang tidur biasanya memang menjadi patokan. Mari sama-sama kita hitung. Ruang tidur biasanya berukuran 3 x 3 m. Jika ada 3 maka menjadi 27 m2. Untuk ruang tamu, ruang keluarga & ruang makan bisa kita buat menyatu dengan ukuran 3 x 6 m. Jadi ruangan ini adalah 18 m2. Untuk dapur cukup dengan 3 x 3 m. Lalu kamar mandi 1, 5 x 1, 5 m. Jika WC-nya ada 2 maka luasnya adalah 4, 5 m2.

Jadi total luas bangunan adalah 58, 5 m2. Kita bulatkan menjadi 60 m2. Sementara itu dalam disain biasanya harus ada alur sirkulasi yang menghubungkan satu ruang dengan ruang yang lain. Kita ambil saja persentasi yang paling besar. 20% dari luas bangunan tersebut adalah areal sirkulasi seperti jalan menuju kamar mandi, areal penghubung dapur dan ruang makan dll. 20% x 60 = 12 m2.

Bisa kita bulatkan saja menjadi 10 m2. Hingga kita bisa peroleh luas bangunan tersebut adalah 60 m2 tambah 10 m2 = 70 m2. Sisanya bisa teras depan atau teras belakang yang menyatu dengan taman. Bisa juga digunakan sebagai carport bagi 1 mobil. Yang penting porsi taman masih tetap lapang.

Saya tidak suka membeda-bedakan bangunan yang bermodel minimalis atau tidak. Karena itu hanya bedak saja. Yang saya lebih suka membedakan adalah spesifikasi dari bahan bangunannya. Misal: Bata merah diganti batako. Atap genteng diganti asbes, dll.

Jika kita ambil harga rata-rata bangunan sekarang 1, 5 juta rupiah per m2 maka harga bangunan tersebut adalah Rp 105 Juta. Belum termasuk harga teras, carport, taman dan pagar.

Bila kita ingin berhemat tentu saja kita buat bertahap. Dana yang kita pakai juga harus dirinci dengan baik. Lalu down grade seperti yang saya maksudkan tadi. Lantainya tidak perlu di-keramik dulu. Cukup dengan aci-an halus semen. Plafond tidak perlu pakai lis profil. Lantai tidak perlu pakai plint keramik. Ini yang membuat bangunan menjadi murah.

Demikian Pak Eddy. Semoga bermanfaat. Dan semoga subuh kita pagi hari ini berkah. Karena kita sholat berjamaah di Masjid. Seperti saat saya menulis sekarang. Sepulang dari masjid, saya bersyukur pada Allah. Jamaah subuh kali ini sampai 2 shaf pria dan 1 shof wanita. Padahal komplek perumahan saya kecil. Alhamdulillah.

Ya Allah, semoga Pondok Gede tempat hamba tinggal menjadi barokah. Semoga Indonesia tempat kita bermukim menjadi aman dan damai. Dan semoga saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain diberi naungan rahmat-Mu. Dan semoga kita semua mendapatmaghfiroh dari Allah karena kita berusaha untuk tetap istiqomah di jalan Al-Islam yang kita cintai ini.

Aamin ya Robbal 'alamiin. Akhirul kalam,

Wassalaamu'alaikum wr wb

Ir. Andan Nadriasta


Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi